Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Indonesia dan 7 Negara Kompak Tekan Israel, Dorong Sanksi Atas Permukiman E1
- Andalkan Sayap Macarena, McLaren Incar Hattrick Di Sirkuit Zandvoort
- Hanura Bidik Generasi Muda, Angkat Isu Lapangan Kerja
- Kepala Buperta Buktikan Mampu Jadi Tuan Rumah Perhelatan Pramuka Skala Nasional
- KPK: Calon Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed Dimintai Ratusan Juta Rupiah
Guru Besar UGM: Penanganan Karhutla Jangan Hanya Hebat Saat Api Sudah Menyala
Sabtu, 22 Agustus 2026 20:46 WIB
Sebelumnya
Sebagai langkah lebih lanjut, Prof. Priyono menyarankan tiga transformasi strategis yang perlu dilakukan dalam penanganan karhutla. Pertama, mengubah ekosistem gotong royong krisis menjadi ekosistem gotong royong penjagaan hutan. Kedua, mengubah berbagai pengalaman menjadi memori strategis nasional. Ketiga, mengubah ketahanan reaktif menjadi ketahanan antisipatif.
“Ketangguhan tidak cukup diukur dari kemampuan memadamkan kebakaran besar. Ketangguhan sendiri berarti kemampuan membaca risiko lebih dini, mengurangi kerentanan, menjaga fungsi ekosistem, dan bertindak sebelum ancaman berubah jadi bencana,” ujarnya.
Jangan Tunggu Api Menyala
Baca juga : Padamkan Karhutla, Prabowo Kerahkan Jenderal TNI-Polri Ke Kalimantan
Prof. Priyono menuturkan, setiap kejadian karhutla seharusnya menghasilkan peningkatan kapasitas pengetahuan dan perbaikan sistem penanganan. Terlebih, Indonesia telah memiliki modal yang kuat pada kemampuan gotong royong ketika terdapat krisis. Tantangannya adalah mengembangkan modal tersebut menjadi sistem yang mampu bekerja sebelum krisis terjadi.
“Karena itu, transformasi paling penting bukan memperbesar mobilisasi ketika api sudah menyala, tetapi mengubah gotong royong menjadi ekosistem penjagaan hutan yang permanen,” ucapnya.
Baca juga : Prabowo Turun Langsung Ke Kalbar, Pimpin Penanganan Karhutla
Menurutnya, keberhasilan penanganan karhutla pada akhirnya tidak semata-mata diukur dari besarnya operasi pemadaman yang mampu dilakukan. Keberhasilan tertinggi justru ketika kebutuhan terhadap operasi pemadaman berskala besar semakin berkurang, karena risiko dan kerentanan telah ditangani sebelum api muncul.
“Ukuran keberhasilan penanganan karhutla pada akhirnya tidak terletak pada semakin besarnya operasi pemadaman yang dapat dilakukan. Keberhasilan tertinggi justru tercapai, ketika operasi pemadaman besar semakin jarang diperlukan, karena bentang alam telah dijaga sebelum api datang,” pungkas Prof. Priyono.
Baca juga : Dampak Karhutla, Kemendikdasmen Siapkan Protokol Pembelajaran Darurat
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya