Dark/Light Mode

Jelang Muktamar, Forum Ulama Nahdliyin Gelar Halaqah Refleksi Kepemimpinan PBNU

Rabu, 26 Agustus 2026 22:23 WIB
Forum Ulama Nahdliyin (FUN) menggelar Halaqah bertema Refleksi Kepemimpinan PBNU di Aula Universitas Darul Ulum, Jombang, Rabu (26/8/2026) siang. Foto: FUN
Forum Ulama Nahdliyin (FUN) menggelar Halaqah bertema Refleksi Kepemimpinan PBNU di Aula Universitas Darul Ulum, Jombang, Rabu (26/8/2026) siang. Foto: FUN

RM.id  Rakyat Merdeka - Forum Ulama Nahdliyin (FUN) menggelar Halaqah bertema Refleksi Kepemimpinan PBNU di Aula Universitas Darul Ulum, Jombang, Rabu (26/8/2026) siang.

Ketua FUN KH. Mujib Qulyubi mengatakan halaqah digelar sebagai bagian dari ikhtiar utama untuk refleksi, sebagaimana bunyi hadits Nabi SAW.

"Apabila melihat kemungkaran maka ubahlah dengan kekuasaan, jika tidak bisa, maka dengan lisan. Jika tidak bisa, maka selemah-lemahnya iman adalah dengan hati," pesan KH. Mujib.

"Rois Syuriyah PWNU Provinsi Gorontalo dr KH. Burhanudin Umar, karena tidak kuat melihat pertengkaran elite-elite kita, maka mengundurkan diri. Mudah-mudahan sekecil apapun ikhtiar kita, semoga upaya NU Kultural kita ini dicatat sebagai bagian dari perjuangan tersebut," ujar Kiai Mujib.

Baca juga : NU Perlu Ambil Peran Dan Tentukan Arah Perubahan

Tokoh NU Andi Najmi Fuadi mengatakan, halaqah ini mengambil fokus diskusi Refleksi Kepemimpinan PBNU dan digelar sehari sebelum dibuka Muktamar NU ke-35 sebagai masukan bagi para muktamirin.

Pengasuh Ponpes Wali Salatiga KH. Anis Maftuhin mengimbau, muktamirin selektif memilih pemimpin organisasi jamiyah ini. Lebih lanjut, Kiai Anis menegaskan, hari ini banyak ulama menangis melihat kondisi jamiyah.

"Pilihannya, kalau tidak berangkat muktamar, kasihan NU. Sekarang sudah ada karantina peserta, dan lain-lain. Ada tiga L yang luntur hari ini. Luntur keulamaannya, luntur tradisi tabayun, luntur ri'ayatul ummah," ucapnya.

"Meski warga nahdliyin, ibu-ibu Muslimat itu tetap jalan tahlilan, istighotsah, dan kegiatan-kegiatan NU. Tapi muktamar hari ini tegang," nilai Kiai Anis Maftuhin.

Baca juga : Idrus Marham Launching Buku Nahdlatul Ulama & Tantangan Peradaban

Menurutnya, di akar rumput NU ada paradoks. Kaderisasi untuk menguatkan kekuasaan, atau jabatan di birokrasi.

"Karena itu tugas bersama menitipkan aspirasi kepada muktamirim untuk memberi maslahat bagi nahdliyin. Ikhtilaf itu harus menjadi rahmat dan perang gagasan," lanjut Kiai Anis.

Pengasuh Ponpes Algebra Bogor. KH Khariri Makmun mengatakan, tasulullah bersabda bahwa sebaik-baik jihad itu mengatakan kebenaran. Dia mengatakan, akar rumput NU berharap PBNU fokus melihat kondisi di masyarakat dan dialog bersama Pemerintah.

"Zaman Gus Dur, KH. Hasyim Muzadi, hingga Kiai Said melakukan itu. Sekarang justru banyak kontroversi," lanjut Kiai Khariri.

Baca juga : Jelang Muktamar NU Ke-35, Idrus Marham Sindir Elite PBNU Yang Makin Pragmatis

Sementara Pengasuh Ponpes Madrasatul Quran KH. Mustain Syafi'i mengatakan, bahkan jika tidak ada PBNU sekalipun, amaliyah NU tetap terlaksana secara otomatis.

"Kita perlu istighfar massal. Dulu, kaum nahdliyin yang paling dipikirkan adalah kesejahteraan umat Islam. Sampai hadratus syaikh mewakafkan tanah untuk dijadikan pasar," ingat Kiai Mustain.

Halaqah diikuti ratusan kiai pengasuh ponpes, tokoh NU, pengurus banom-banom NU, dan warga Nahdliyin yang hadir di Jombang dalam rangka menyambut Muktamar NU ke-35.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.