Dark/Light Mode

4 Gunung Erupsi Bareng

Waspada, Tapi Jangan Panik

Kamis, 10 September 2026 07:50 WIB
Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU)
Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU)

 Sebelumnya 
Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara, juga menunjukkan aktivitas erupsi. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan empat kali erupsi sepanjang Rabu.

Mengutip situs Magma Indonesia, erupsi Gunung Ibu terjadi pada pukul 05.27 WIT, 09.19 WIT, 11.54 WIT, dan 12.01 WIT. Visual letusan tidak teramati dan saat laporan dibuat, aktivitas erupsi masih berlangsung.

Gunung Ibu saat ini berada pada Level II atau Waspada. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah.

Baca juga : Karhutla Kalimantan & Sumatera Disorot 13 Negara

“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal condong ke arah timur laut dan timur,” demikian laporan PVMBG, Rabu (9/9/2026).

Aktivitas empat gunung api yang terjadi dalam waktu berdekatan mendapat perhatian Pemerintah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau perkembangan aktivitas gunung api serta potensi sebaran abu vulkanik.

“Masyarakat, khususnya di sekitar wilayah terdampak diimbau tetap waspada, tidak panik, serta mengikuti informasi resmi BMKG, PVMBG/Badan Geologi, dan pemerintah setempat,” tulis BMKG melalui akun Instagram resminya.

Baca juga : 5 Wartawan Hilang Di Sekitar Anak Krakatau, Pencarian Diperluas Ke Selat Sunda

Guru Besar Fakultas Teknik Geologi (FTG) Universitas Padjadjaran, Prof. Nana Sulaksana, mengatakan erupsi yang terjadi hampir bersamaan di sejumlah gunung api tidak perlu disikapi dengan kepanikan. Menurut dia, kondisi tersebut justru menjadi pengingat agar masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.

Setiap gunung api memiliki sistem geologi yang berbeda, mulai dari kedalaman dapur magma, jalur pergerakan magma, hingga komposisi dan sifat magma. Karena itu, erupsi beberapa gunung dalam waktu berdekatan tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung antargunung.

“Secara singkat seluruh variabel sebagai tanda-tanda akan terjadi erupsi sudah dimanfaatkan secara optimal dalam pemantauan gunung api di Indonesia,” tulis Prof. Nana, Rabu (9/9/2026).

Baca juga : Geledah Rumah Direktur PT CMC, KPK Sita Barbuk Elektronik

Menurut dia, penyediaan peta zona risiko gunung api juga penting agar masyarakat mengetahui wilayah yang harus dihindari ketika aktivitas vulkanik meningkat. Selain itu, edukasi mengenai bahaya abu vulkanik perlu terus dilakukan. [BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

mpo slot slot gacor harum100 slot gacor slot gacor