Dark/Light Mode

BMKG: Munculnya Cacing Dalam Jumlah Banyak di Solo, Bukan Pertanda Gempa Bumi

Minggu, 19 April 2020 18:14 WIB
ilustrasi kemunculan ratusan cacing tanah di Solo
ilustrasi kemunculan ratusan cacing tanah di Solo

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono menepis spekulasi yang menyebut, kemunculan cacing dalam jumlah banyak di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah adalah pertanda bakal terjadi gempa bumi.

"Fenomena munculnya cacing itu tidak didukung bukti-bukti alamiah lain, beserta data anomali prekursornya. Jadi, tidak ada kaitannya dengan gempa," kata Daryono di Jakarta, Minggu (19/4).

Namun, Daryono tak menampik adanya gempa yang diawali adanya gejala alamiah, berupa kemunculan cacing tanah secara massal.

Di Taiwan, misalnya. Cacing tanah dilaporkan muncul 10 hari menjelang terjadinya gempa Chi Chi 1999.

Baca juga : PSBB DKI, Ini Penyesuaian Operasional di Bandara Soetta dan Halim Perdanakusuma

Kemudian saat gempa Haicheng, China pada tahun 1975, beberapa hari sebelumnya juga dilaporkan kemunculan cacing tanah dalam jumlah yang sangat banyak. 

Beberapa sumber pustaka lain juga mengungkap fenomena kemunculan cacing tanah menjelang gempa, seperti kajian Chen dan kawan-kawan (2000), Rikitake (1979), Whitehead dan Ulusoy (2013), dan Liso dan Fidani (2014).

Grant dan Conlan (2015) menyebut, kemunculan cacing tanah di permukaan menjelang gempa, terkait dengan anomali gelombang elektromagnetik frekuensi rendah. 

Munculnya anomali ini disebut terjadi beberapa hari sebelum gempa bumi.

Baca juga : Tito Akui Banyak Persoalan Perbatasan Belum Selesai

Dalam sebuah penelitian yang mengkaji hubungan antara aktivitas cacing tanah dan kelistrikan, Ikeya dkk (1996) menempatkan beberapa elektroda yang dialiri arus listrik pada permukaan tanah yang banyak terdapat cacing tanah. 

Sejumlah cacing ternyata merespons anomali kelistrikan itu. Mereka keluar dari dalam tanah secara hampir bersamaan.

Namun perlu digarisbawahi, fenomena munculnya cacing dalam jumlah banyak menjelang gempa besar, selalu didukung data perilaku gejala alamiah tak lazim lainnya. 

Seperti kemunculan ular di beberapa tempat, anjing yang terus menggonggong bersahutan, dan ikan yang melompat-lompat di kolam.

Baca juga : Menhub Temui Jemaah Umroh di Bandara Soetta, Semua Tertangani dengan Baik

Selain perilaku aneh binatang menjelang gempa, para ilmuwan juga menandai adanya anomali prekursor gempa. Prekursor gempa adalah sebuah anomali kondisi lingkungan fisis, yang menjadi petunjuk akan terjadinya gempa.

Prekursor dapat berupa anomali permukaan tanah, elevasi muka air tanah, dan emisi radon yang terjadi berbarengan. 

Radon yang merupakan unsur radioaktif, akan keluar ketika batuan melepaskan stresnya. Sehingga, radon menjadi parameter penting dalam prekursor gempa bumi.

"Jika tidak ada data pendukung lainnya, maka munculnya cacing secara massal diduga terjadi karena perubahan kondisi cuaca, iklim, dan lingkungan yang mendadak. Termasuk kemungkinan terpapar bahan kimia seperti disinfektan dan lainnya," tandas Daryono. [FIK]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.