Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Man City Vs Brighton, Ancaman Produktivitas The Seagulls
- Rupiah Menguat Ke Rp 18.123, Ini Sentimen Pendorongnya
- OMC Berhasil Tekan Titik Panas Karhutla di Papua Selatan
- Chelsea vs Man United, Ujian Terakhir Michael Carrick
- Pramono Minta Bina Marga Kebut Perbaikan Jalan Gelap dan Bergelombang Rawamangun
Oleh: Dr. Victor A. Pogadaev (Moscow)
RM.id Rakyat Merdeka - Tanggal 28 Oktober 1928. Malam menyelimuti Batavia, ibu kota Hindia Belanda. Di sebuah gedung di Jalan Kramat Raya 106, Kongres Pemuda Kedua mendekati akhirnya. Seorang pemuda tampil membawa biola. Namanya Wage Rudolf Supratman.
Para hadirin mendengarkan. Dari gesekan biola itu mengalun “Indonesia Raya”, lagu yang kelak menjadi lagu kebangsaan sebuah republik yang belum lahir.
Malam itu, harapan tentang tanah air memperoleh bunyi.
Orang-orang yang datang dari tempat berlainan dapat membayangkan masa depan yang sama.
Mereka berasal dari berbagai lingkungan suku: Jawa, Minangkabau, Sunda, Melayu, Batak, Makassar, Bali, dan kelompok-kelompok lain di kepulauan yang masih berada di bawah kekuasaan kolonial.
Melalui putusan kongres yang kemudian dikenang sebagai Sumpah Pemuda, mereka menegaskan kesatuan tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan. Indonesia sedang disusun dalam kesadaran, sebelum hadir sebagai negara.
Persatuan tanah air dan bangsa itulah yang hidup dalam “Indonesia Raya”. Butir ketiga tentang bahasa persatuan memang tidak disebutkan secara tersurat dalam liriknya. Namun, lagu itu sendiri ditulis dalam bahasa yang mereka junjung: bahasa Indonesia.
Bahasa itu berakar pada bahasa Melayu. Selama berabad-abad, Melayu telah digunakan dalam perdagangan dan komunikasi antaretnis di Kepulauan Indonesia, bahkan lebih luas lagi, di pesisir Asia Tenggara.
Kapal-kapal membawa barang, dan bersama barang bergerak pula kata-kata.
Orang yang berlainan asal memerlukan bahasa untuk saling memahami.
Dalam bentuk tertulis, jejak bahasa Melayu Kuno dapat ditemukan pada prasasti-prasasti Sriwijaya sejak abad ketujuh, antara lain dengan aksara Pallawa yang berasal dari India.
Dalam perkembangan berikutnya, bahasa Melayu yang ditulis dengan aksara Arab menjadi salah satu sarana penyebaran Islam.
Baca juga : Dubes RI Untuk Rusia Jose Tavares Gelar Kongres Bahasa Indonesia Di Moskow
Bahasa itu memasuki lingkungan keagamaan dan kesusastraan, seraya tetap hidup dalam pergaulan sehari-hari.
Bangsa Eropa yang tiba pada masa penjelajahan turut menggunakannya.
Antonio Pigafetta, yang menyertai pelayaran Magellan pada abad ke-16, termasuk orang Eropa awal yang mencatat kosakata Melayu.
Perjumpaan dengan bahasa itu memperlihatkan sesuatu yang sudah berlangsung di kepulauan ini: sebuah percakapan luas yang melintasi batas masyarakat setempat.
Bahasa Melayu juga digunakan oleh VOC dan pemerintahan kolonial yang menggantikannya.
Sejak pertengahan abad ke-19, perkembangan pers dan kesusastraan memperluas ruang pemakaiannya.
Kabar dicetak, cerita dibaca, dan gagasan menjangkau orang-orang yang tidak pernah saling berjumpa.
Di antara halaman-halaman itu, kesadaran baru tentang kehidupan bersama mulai memperoleh bentuk.
Karena itu, pengangkatan bahasa yang berakar pada Melayu sebagai bahasa persatuan dengan nama bahasa Indonesia merupakan keputusan politik yang penting.
Para pemuda menggunakan sarana komunikasi yang telah tersedia, lalu memberinya mandat kebangsaan.
Bahasa yang lama menghubungkan pelabuhan dan masyarakat kini ikut menghubungkan cita-cita kemerdekaan.
Akan tetapi, perjalanan bahasa Indonesia tidak berhenti pada pemberian nama.
Sesudah 1928, terlebih setelah kemerdekaan, bahasa itu tumbuh bersama pengalaman masyarakat yang semakin luas.
Baca juga : Pupuk Indonesia Dorong Penguatan Regenerasi Pertanian untuk Bangun Masa Depan
Berbagai bahasa daerah di Nusantara ikut memperkaya kosakatanya. Bahasa Jawa, Sunda, Minangkabau, dan bahasa-bahasa lainnya menyumbangkan kata serta ungkapan.
Dari perjumpaan dengan dunia luar, masuk pula unsur Sanskerta, Arab, Belanda, Portugis, Inggris, dan bahasa asing lainnya, dalam masa dan lingkungan yang berbeda.
Kata-kata itu disesuaikan dengan kebutuhan penuturnya. Bunyi dan ejaan berubah; makna kadang meluas atau bergeser.
Pendidikan, pemerintahan, ilmu pengetahuan, dan kesusastraan turut membentuk kebiasaan bahasa Indonesia. Ia memperoleh pembakuan dan lingkungan kehidupan sendiri.
Sementara itu, bahasa Melayu pun terus berkembang melalui pengalaman masyarakat penuturnya.
Dengan demikian, akar yang sama tidak membuat bahasa Indonesia dan bahasa Melayu sekarang identik. Keduanya tetap berkerabat sangat dekat, tetapi telah mengembangkan kekhasan masing-masing.
Perbedaannya menyangkut kosakata, makna, dan kebiasaan pemakaian, juga identitas yang tumbuh dalam perjalanan sejarah.
Menyebut bahasa Indonesia semata-mata sebagai bahasa Melayu dengan nama lain belum cukup menggambarkan perkembangan tersebut.
Di Indonesia sendiri, bahasa Melayu tetap digunakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera, Kepulauan Riau, Kalimantan, dan daerah lainnya.
Bahasa Melayu tercatat sebagai salah satu dari 718 bahasa daerah di Indonesia yang telah diidentifikasi dan divalidasi oleh Badan Bahasa, di luar dialek dan subdialek.
Kehidupannya sebagai bahasa masyarakat daerah berjalan berdampingan dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Dari Sabang sampai Merauke, sekitar 290 juta penduduk Indonesia dapat memiliki bahasa ibu yang berbeda-beda. Mereka tetap menggunakannya dalam keluarga dan lingkungan setempat.
Namun, untuk percakapan lintas suku dan daerah, bahasa Indonesia menyediakan ruang bersama. Di dalamnya terdengar banyak logat dan pengalaman. Bahasa itu telah menjadi milik seluruh bangsa, dengan sumbangan yang terus datang dari berbagai penjuru.
Baca juga : Sumpah Pemuda, Jasa Marga Perkuat Regenerasi Kepemimpinan Dan Inovasi Digital
Itulah salah satu pencapaian penting Indonesia.
Setelah kemerdekaan, bahasa Indonesia memungkinkan bangsa ini mengembangkan pendidikan, termasuk pendidikan tinggi, serta ilmu pengetahuan dalam bahasanya sendiri. Mengakui pencapaian tersebut sekaligus berarti mengingat sumbangan Melayu sebagai landasan pembentukannya.
Pengakuan terhadap asal-usul dan pengakuan terhadap identitas yang berkembang dapat berjalan beriringan.
Kini Bahasa Indonesia digunakan oleh hampir 300 juta orang. Besarnya lingkungan penutur itu memperkuat peluangnya di dunia internasional, termasuk dalam pembicaraan mengenai penggunaannya di ASEAN.
Kerja sama dengan negara-negara serumpun tentu berharga. Kerja sama itu juga memerlukan penghormatan terhadap nama dan identitas masing-masing bahasa.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mengelu-elukan Kongres BI ke-2.
Dalam perjalanan itulah Kongres Bahasa Indonesia ke-2 di Rusia menemukan maknanya.
Diselenggarakan oleh KBRI Moskow bersama HSE University pada 28 Oktober 2026, kongres tersebut mengangkat tema “Bahasa Indonesia di Pentas Global: Tantangan, Peluang, dan Masa Depan”.
Duta Besar RI Jose Tavares yang memberi sumbangan besar terhadap perkembangam mesra antara Indonesia dan Rusia.
Tanggalnya mempertemukan kembali perhatian kepada bahasa dengan ingatan akan Sumpah Pemuda.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat hadir bersama Duta Besar RI Jose Tavares dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Khoirul Rosyadi.
Para indonesianis dari Moskow, Saint Petersburg, dan Kazan ikut membicarakan perkembangan bahasa Indonesia. Para hadirin sempat juga menikmati dua lagu Indonesia yang dibawakan oleh seorang cicit perempuan penyair terkenal Indonesia Prof Intojo yang pernah mengajar bahasa Indonesia di Moscow – Veronika Khomkina (Karena Kamu) serta mahasiswi Akademi Diplomatik MGIMO Anastasia Marker (Sapu Tangan).
Veronika Khomkina
Anastasia Marker
Jauh dari kepulauan tempat bahasa itu tumbuh, perhatian terhadap masa depannya memperoleh ruang baru.
Hampir seabad sebelumnya, di Kramat, sebuah biola memperdengarkan harapan tentang Indonesia.
Kini bahasa yang ikut menumbuhkan harapan itu menempuh perjalanan lain, memasuki ruang-ruang belajar di negeri yang jauh. Ia membawa ingatan kepada Melayu, juga suara banyak masyarakat yang telah menjadikannya bahasa bersama.
Svetlana Banit dari St. Petersburg yang membentangkan makalah “Peran Perempuan Rusia dalam Pendidikan Bahasa Indonesia di Rusia”
Beberapa orang indonesianis dari Moscow yang ikut serta dalam Kongres BI ke-2
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya