Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sandi: Di Tengah Pandemi, Jaga Ketahanan Pangan dari Rumah

Sabtu, 16 Mei 2020 05:02 WIB
Founder OK OCE Sandiaga Uno. (Foto: @sandiuno)
Founder OK OCE Sandiaga Uno. (Foto: @sandiuno)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wabah virus corona yang melanda Indonesia diharapkan bisa meningkatkan kesadaran bersama masyarakat Indonesia untuk memperkuat produksi demi terciptanya kemandirian dan ketahanan pangan.

Founder OK OCE Sandiaga Uno mengatakan, era pandemi harus dijadikan sebagai peluang untuk mengejar defisit dan mencegah krisis pangan. Salah satu cara mewujudkan ketahanan pangan adalah dengan melakukan urban farming di rumah. Dengan begitu, paling tidak 50% kebutuhan pangan yang dibutuhkan setiap keluarga sudah bisa dipenuhi dari rumah.

“Ketahanan pangan sangat dibutuhkan di setiap negara untuk menjaga kestabilan dan keterjangkauan harga. Apalagi di tengah hantaman pandemi Covid-19 ini. Banyak orang kehilangan pekerjaan, akibatnya tak punya uang, tidak bisa membeli pangan,” jelas Founder OK OCE Sandiaga Uno dalam diskusi bertema Ketahanan Pangan Keluarga di Tengah Pandemi, di Jakarta.

Untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat selain beras, ia mengajak masyarakat menanam jagung, umbi-umbian, ketela, juga singkong. Selain itu juga menanam sayur mayur dan membuat kolam ikan di sekitar rumah.

Berita Terkait : PGN Bidik Peningkatan Pemanfaatan Gas Bumi

Ia juga berbagi ide untuk mewujudkan kehidupan masyarakat aman pangan, yaitu melalui pendekatan urban farming di sekitar rumah, menumbuhkan ketahanan pangan sebagai prioritas, melipatgandakan kapasitas lokal, memperkaya food mix atau diversifikasi pangan, dan menerapkan teknologi di sektor pertanian.

“Dengan menerapkan teknologi, bisa menciptakan lapangan kerja. Green job. Ini bisa diserahkan kepada generasi muda. Sebanyak 55% milenial itu ternyata ingin punya usaha. OK OCE harus menangkap ini. Usahanya apa? Bidang pangan. Bisa pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan. Semua hal yang terkait pangan. Kita harus hadirkan kekayaan kita untuk menuju kedaulatan pangan,” ungkap Sandi, Jumat (15/5)

Andro Tunggul dari Komunitas Patani mengatakan, Indonesia diprediksi surplus beras 6,9 juta ton pada Juni. Namun demikian, akan terjadi titik kritis ketika masa panen selesai pada akhir tahun karena setelah masa panen berakhir petani baru bisa menanam kembali.

“Periode itu yang menjadi titik kritis terjadinya rawan pangan, khususnya beras. Kenapa? Karena saat itu harga beras di tingkat petani jauh di atas HPP pemerintah. HPP pemerintah Rp.8.300 sedangkan sekarang per April di tingkat petani Rp.9.300. Jadi dengan kondisi itu, petani akan merugi dan sulit memproduksi bahan pangan selanjutnya.

Berita Terkait : Kemendes Siapkan 1,8 Juta Ha Untuk Ketahanan Pangan

Ia juga melanjutkan bahwa produksi beras Indonesia mengalami tren penurunan dalam tiga tahun belakang. Penurunan itu dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan di lima sentral lumbung pangan, yakni di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan.

“Bisa dilihat dari 2018-2019 produksi menurun di lima sentral lumbung pangan. Itu terjadi karena alih fungsi lahan dari pertanian ke industri dan properti sehingga lumbung pangan nasional kita terancam,” kata Andro.

Untuk itu, ia mengajak semua masyarakat untuk mulai menciptakan ketahanan pangan dari rumah. Menurutnya, mandiri pangan itu sesimpel kita menanam di rumah. “Nanam apa saja yang bisa dikonsumsi.

Kelangkaan pangan ini ancanaman serius, butuh support dari semuanya untuk membumikan kemandirian pangan,” tutup Andro. Sementara itu,

Berita Terkait : KBRI Bandar Seri Begawan Kembali Pulangkan PMI Ke Tanah Air

Ketua Umum OK OCE Indonesia Iim Rusyamsi mengatakan, dibandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand, ketahanan pangan negara kita masih lemah.

Jika dilihat dari indeks global ketahanan pangan dunia, Indonesia berada di urutan 62 dari 113 negara. Singapura yang tidak memiliki lahan produksi pertanian dan pangan bertengger di urutan pertama. Sementara Malaysia berada di peringkat ke-20.

“Mudah-mudahan dengan kita bisa mandiri, dengan membuat ketahanan pangan dari rumah, bagaimana kita bertanam dari rumah, ini bisa memenuhi kebutuhan pangan kita,” pungas Iim. [SRI]