Dark/Light Mode

242 Wartawan Kena Covid, AJI Minta Konferensi Pers Tatap Muka Disetop Dulu

Selasa, 29 September 2020 16:47 WIB
Dalam rangka penanggulangan penyebaran Covid-19, sebanyak 100 wartawan dan pekerja media mengikuti swab test di Hall Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (28/9). (Foto: Dewan Pers)
Dalam rangka penanggulangan penyebaran Covid-19, sebanyak 100 wartawan dan pekerja media mengikuti swab test di Hall Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (28/9). (Foto: Dewan Pers)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Bidang Advokasi Aliansi Jurnalis Independensi (AJI) Sasmito Madrim melaporkan, setidaknya ada 242 jurnalis dan pekerja media yang dinyatakan positif Covid-19, dalam periode 30 Maret-September 2020.

Kasus terbanyak terjadi dalam rentang Juli-Agustus 2020, dengan 235 kasus.

Berita Terkait : Sudah Dirawat 12 Hari Karena Covid, Kondisi Menag Stabil

Terkait hal itu, AJI mendesak pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga lain untuk tidak menggelar konferensi pers, secara tatap muka. Karena hal tersebut berpotensi meningkatkan angka penularan Covid-19 di kalangan jurnalis dan pekerja media.

"Jangan ada lagi konferensi pers tatap muka. Konferensi pers tatap muka, tak hanya menciptakan kerumunan orang, tetapi juga tidak memastikan adanya jarak aman sekitar dua meter," kata Sasmito dalam keterangan persnya, Selasa (29/9).

Berita Terkait : Hasto Minta Kader Banteng Tetap Kalem

"Kondisi ini berpotensi membuat jurnalis dan pekerja media di Indonesia, rentan tertular Covid-19. Padahal, jurnalis berperan penting dalam memastikan informasi tentang Covid-19, sampai ke masyarakat. Sehingga, membantu semua pihak untuk mengambil keputusan yang tepat," lanjutnya.

Sasmito juga mendorong perusahaan media untuk memperhatikan keselamatan jurnalis dan pekerjanya. Salah satunya, dengan tidak mengirim jurnalis ke konferensi pers secara tatap muka.

Baca Juga : Menpora Dukung PSSI Tunda Kompetisi Liga 1 dan 2 Sebulan

"Perusahaan media hendaknya juga memberikan alat perlindungan diri kepada jurnalis dan pekerja media, yang meliput ke wilayah yang berpotensi terjadinya penularan Covid-19. Di samping membuat dan menerapkan protokol kesehatan, untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19 terhadap jurnalis dan pekerja media," pungkasnya. [FAQ]