Dark/Light Mode

Ketimbang Cuci Tangan dan Pakai Masker, Jaga Jarak Memang Lebih Sulit

Rabu, 7 Oktober 2020 17:23 WIB
Ketua Relawan Kesehatan Agung Nugroho (kiri) berbincang-bincang dengan tim Rakyat Merdeka. (Dok RM)
Ketua Relawan Kesehatan Agung Nugroho (kiri) berbincang-bincang dengan tim Rakyat Merdeka. (Dok RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dibanding dua jenis protokol kesehatan lainnya - yakni memakai masker, mencuci tangan -, menjaga jarak adalah hal yang cukup sulit dilakukan. Terlebih, di tengah kultur masyarakat yang cenderung guyub atau senang kumpul-kumpul.

Hal ini diungkap Ketua Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia Agung Nugroho, dalam talkshow RMco.id bertema "Masih Suka Kongkow? Aduh, Jangan Dulu Dong", Rabu (7/10).

Menurutnya, masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan tradisi ngumpul-ngumpul atau kongkow. Baik dalam kondisi senang ataupun susah, ngumpul-ngumpul sudah sejak lama dilakukan. Sudah membudaya. Jauh sebelum pandemi Covid-19 masuk ke Tanah Air.

“Bahkan, saat ada kecelakaan di jalan, orang-orang ngumpul. Meski hanya sekedar menonton,” kata Agung.

Berita Terkait : 35 Calon Muda Praja IPDN Positif Covid-19

Terkait hal itu, Agung menilai pentingnya sosialisasi 3M: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan secara teratur, secara masif.  

"Rekan Indonesia membentuk gugus tugas di tingkat Rukun Tetangga (RT). Mereka berkeliling setiap hari untuk memberikan edukasi 3M. Ini penting, agar masyarakat menjalankan 3M: memakai masker, mencuci tangan dan jaga jarak. Kemudian, bila ada kerumunan warga, kami ingatkan untuk tidak kumpul-kumpul,” papar Agung,

“Tapi memang, sulit bagi mereka tidak kumpul-kumpul. Karena sudah menjadi tradisi yang melekat,” tambahnya.

Kongkow di masa pandemi Covid, rawan menjadi klaster penyebaran virus karena orang cenderung melepas maskernya ketika bertemu dengan orang dekat. Belum lagi, aktivitas makan dan minum bersama. Masker dilepas, sehingga memungkinkan terjadinya penularan virus Covid-19. 

Berita Terkait : Gedung DPR Belum Ditutup, Bos Satpol PP: Kita Akan Cek

“Itu bisa jadi pintu masuk virus. Entah karena droplet yang masuk nempel di makanan yang dimakan ramai-ramai, atau lainnya,” katanya.

OTG Keluyuran

Selain masalah kongkow, Agung juga menyoroti maraknya pasien Covid kategori Orang Tanpa Gejala (OTG) yang masih belum melakukan isolasi mandiri. Mereka masih kerap keluyuran di luar rumah karena merasa sehat.

“Nggak ada yang bisa menjamin, apakah dia kontak dengan anggota keluarga yang lain atau tidak. Apakah dia konsisten tidak keluar kamar. Apakah kamar mandinya tidak gabung dengan anggota keluarga yang lainnya,” katanya.

Berita Terkait : Adaptasi Kebiasaan Baru, Begini Protokol Kesehatan di Tempat Umum dan Restoran

Mayoritas isolasi mandiri di Jakarta, memang mengalami kesulitan melakukan isolasi mandiri, karena keterbatasan. Satu rumah, banyak yang diisi oleh beberapa kepala keluarga. “Ini juga menjadi kendala,” tandasnya.

Tak kalah penting, Agung juga meminta setiap pemimpin untuk memberikan keteladanan menjalankan protokol kesehatan. Agar gerakan 3M menjadi budaya, dan laju penyebaran Covid bisa ditekan. [QAR]