Dark/Light Mode

Klaster Keluarga Muncul Karena Isolasi Mandiri Kurang Efektif

Rabu, 4 Nopember 2020 20:35 WIB
Kepala Departemen Epidemiologi dan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Tri Yunis Miko Wahyono. (Foto: Tangkapan layar)
Kepala Departemen Epidemiologi dan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Tri Yunis Miko Wahyono. (Foto: Tangkapan layar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono menyebut, isolasi mandiri di rumah berisiko menimbulkan penularan Covid-19 ke anggota keluarga lain. Akhirnya, muncul klaster keluarga. Di luar isolasi mandiri pun, kata Miko, klaster keluarga sangat potensial merebak di tengah aktivitas masyarakat yang sudah mulai kembali normal.

"Memang penularan di antara keluarga akan potensial," kata Miko, dalam talkshow virtual yang diselenggarakan RMco.id bertajuk “Awas Klaster Keluarga Meroket”, Rabu (04/11). Talkshow dipandu dua wartawan senior Rakyat Merdeka M Rusmadi dan Ujang Sunda. 

Berita Terkait : Jalani Rapid Test Antigen, 244 Hakim Dan Pegawai PN Jakpus Non-Reaktif Covid-19

Miko menceritakan, pandemi Covid-19 yang berawal di Wuhan, Hubei, mulanya dari klaster pasar. Klaster pasar ini kemudian merebak ke klaster keluarga. Lantaran belum ada isolasi terpusat dan masih mandiri di rumah. Tak lama, pemerintah China langsung membuat rumah sakit khusus dalam jangka 10 hari. "Pemerintah langsung isolasi seluruh kasus di Hubei, dan berhasil. Hubei, kini minim kasus," katanya.

Nah, masalahnya, Covid-19 ini penularannya dari orang ke orang melalui droplet. Artinya, kunci penularannya adalah kerumunan orang. Masalahnya, sejak pandemi melanda Indonesia Maret lalu, di awal, anjuran isolasinya di rumah jika ringan, dan di RS jika bergejala berat.

Berita Terkait : Kemenkes-Satgas Covid-19 Rekrut Ribuan Contact Tracer

"Begitu sekarang 400 ribu lebih kasus, baru sadar, isolasi di fasilitas pemerintah. Wisma Atlet, hotel dan fasilitas lain," katanya.

Dia memprediksi, klaster keluarga akan semakin banyak. Sementara, jika isolasi di rumah, akan susah. Rumah harus layak. Dari mulai, kamar, ventilasi dan lainnya.

Berita Terkait : Anies Senang, Kamar Hotel Untuk Isolasi Mandiri Pasien OTG Cuma Terisi 21 Persen

"Kalau keluarganya banyak, salah satunya harus ke rumah sakit. Supaya yang lain nggak kena. Kalau tidak layak, ya harus dirawat di tempat lain. Sekarang ada fasilitasnya. Makanya, laporkan kalau merasa kena Covid-19. Kalau di Jakarta, cepat, hitungan hari, esoknya disurvei. Kalau di wilayah lain, agak lama memang. Masih banyak yang isolasi di rumah," terangnya.

Selain itu, keluarganya harus tahu bagaimana caranya isolasi pasien Covid-19 di rumah. "Saya punya temen, S3 saja kebingungan. Yang well educated saja belum tentu tahu. Apalagi orang awam. Pasti menular satu keluarga. Bahkan banyak yang satu keluarga akhirnya dirawat," ujar dia. [FAQ]