Dark/Light Mode

Jokowi Marah Lagi... Ini Yang Ke-6 Kalinya

Kamis, 19 Nopember 2020 06:53 WIB
Presiden Jokowi (Foto: Twitter @jokowi)
Presiden Jokowi (Foto: Twitter @jokowi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi kembali marah ke anak buahnya. Penyebabnya, Jokowi merasa masih ada menteri yang bekerja biasa-biasa saja di tengah pandemi Corona.

Kemarahan Jokowi ini muncul saat memberi arahan di Rapat Koordinasi (Rakornas) Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah secara virtual dari Istana Bogor, kemarin. Rakor ini dihadiri 2.813 peserta dari kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Para kepala daerah, dari gubernur sampai bupati/wali kota, ikut hadir. 

Sedangkan dari anggota kabinet, yang hadir antara lain Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Berita Terkait : Jokowi Puji Kiprah Muhammadiyah Di Bidang Pendidikan dan Kesehatan

Jokowi menegaskan, ingin ada perubahan sistem kerja kementerian/lembaga di tengah pandemi Covid-19. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menilai, sistem kerja kementerian/lembaga masih normal. Biasa-biasa saja. 

“Dalam kondisi yang darurat seperti ini masih bekerja dalam channel yang ordinary, biasa-biasa saja, normal-normal saja. Belum berganti ke channel yang extraordinary," omel Jokowi.

Standar Operasional Prosedur (SOP) juga belum berubah. Akibatnya, pengadaan barang dan jasa di pemerintahan berjalan lamban. Padahal, pengadaan barang pemerintah itu penting untuk meningkatkan peredaran uang di masyarakat. Di tengah ekonomi sulit saat ini, salah satu sumber yang paling diharapkan adalah dari belanja pemerintah.

Berita Terkait : Presiden Jokowi Minta Kadin Pacu Kinerja Sektor Pangan

Jokowi mengingatkan, belanja pemerintah di kuartal II-2020 anjlok hingga minus 6 persen. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi melorot tajam hingga minus 5,32 persen. Baru di kuartal III-2020, belanja pemerintah naik positif sekitar 9 persen. Hasilnya, pertumbuhan membaik menjadi minus 3,49 persen.

Praktis, tinggal sekitar sebulan lagi sisa waktu pengadaan barang dan jasa pemerintah. Sementara, masih banyak pengadaan barang dan jasa masih dalam proses. Jokowi lalu mencontohkan di bidang konstruksi. "November itu masih Rp 40 triliun dan itu adalah konstruksi, terus nanti kalau misalnya itu jadi barangnya kayak apa? Kalau bangunan ya ambruk, kalau jembatan ya ambruk," omelnya lagi.

LKPP sebagai lembaga pengadaan barang dan jasa pemerintah juga diminta Jokowi berubah dan berani melakukan banyak terobosan. Mulai dengan memanfaatkan teknologi super modern dan membangun sistem pengadaan yang real time untuk memonitor transaksi di setiap kementerian/lembaga hingga pemerintah daerah.

Berita Terkait : Jokowi Dorong Penguatan Integrasi Ekonomi dan Stabilitas ASEAN-Australia

"Berpijak pada data-data tersebut, para menteri, kepala lembaga, dan kepala daerah bisa diberikan alarm, bisa diberikan peringatan agar mereka melakukan langkah-langkah percepatan, apalagi di kondisi pandemi seperti ini," terangnya.
 Selanjutnya