Dark/Light Mode

Sampaikan Bela Sungkawa, Bamsoet: Jasa Prof. Muladi Untuk Bangsa Tak Terhitung

Kamis, 31 Desember 2020 14:08 WIB
Politisi senior Partai Golkar almarhum Prof. Muladi (Foto: Antara)
Politisi senior Partai Golkar almarhum Prof. Muladi (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Bambang Soesatyo menyampaikan bela sungkawa dan berduka cita atas wafatnya tokoh senior Partai Golkar, Prof. Muladi. Bamsoet, sapaan akrab Bambang, menyebut, jasa dan dedikasi Muladi terhadap bangsa dan negara tak terhitung. Berawal sebagai dosen di Universitas Diponegoro, Semarang, Muladi yang semasa mudanya menjadi aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini kemudian masuk ke Jakarta sebagai anggota MPR pada 1997 dari fraksi utusan daerah.

"Sebelumnya, almarhum pernah menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia pada tahun 1993. Kemudian menjadi Menteri Kehakiman dalam Kabinet Pembangunan VII (1998) dan Kabinet Reformasi Pembangunan merangkap Menteri Sekretaris Negara (1998–1999), Hakim Agung (September 2000–Juni 2001), terakhir sebagai Gubernur Lemhannas (2005–2011)," ujar Bamsoet, di Bali, Kamis (31/12).

Berita Terkait : Bamsoet Cek Kesiapan Bali Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Dunia Motocross 2021

Ketua DPR ke-20 ini mengenang Prof. Muladi sebagai Guru Besar Hukum Pidana yang aktif mendukung DPR dan pemerintah untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) yang asli buatan bangsa Indonesia. Langkah ini sebagai upaya dekolonialisasi terhadap aturan-aruran warisan Belanda.

"Almarhum sudah lebih kurang menghabiskan 35 tahun usia hidupnya untuk mengkaji RUU KUHP. Almarhum berkali-kali mengatakan, sudah bosan mengajar KUHP peninggalan Belanda," kenang Bamsoet.

Berita Terkait : Tetap Optimis, Refleksi Akhir Tahun 2020

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini mengungkapkan, keberadaan Muladi di Partai Golkar tak ubahnya seperti guru yang selalu mendidik dan memberi kesempatan kepada para juniornya untuk tumbuh dan berkembang. Walaupun pernah berseberangan dengan Muladi terkait kondisi internal Partai Golkar pada dekade 2015, namun tak membuat hubungan personal keduanya berjarak.

"Justru dinamika dan pemikiran almarhum terkait Partai Golkar itulah yang semakin menghidupkan dialektika di internal para kader. Almarhum tidak ubahnya sebagai guru yang memantik dan memancing para kader untuk aktif mengeluarkan berbagai argumentasi. Sebagai senior yang sudah memiliki jam terbang tinggi di politik, almarhum justru menikmati adu pemikiran dengan para juniornya. Sebaliknya, kita para junior jadi bisa belajar banyak dari beliau," pungkas Bamsoet. [USU]