Dark/Light Mode

Hadapi Ancaman Gelombang Ketiga

Nih, Tiga Jurus Pemerintah Buat Tangkal Virus Corona

Jumat, 8 Januari 2021 05:16 WIB
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito. (Dok. Satgas Covid-19).
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito. (Dok. Satgas Covid-19).

RM.id  Rakyat Merdeka - Negara-negara di berbagai belahan dunia saat ini menghadapi ancaman gelombang ketiga pandemi Covid-19.

Mengantisipasi ancaman gelombang ketiga pandemi Covid-19, Pemerintah menyiapkan strategi khusus. Setidaknya, ada tiga jurus yang dilakukan Pemerintah.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, dalam keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (5/1), membeberkan ketiga strategi tersebut.

Berita Terkait : Ingat Pesan Ibu, Kamu Bakal Sehat

Pertama, pembuatan pedoman rekayasa pelayanan kesehatan jika terjadi lonjakan kasus dan menyesuaikan besaran kenaikan kasus.

Kedua, koordinasi Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, mulai dari tingkat nasional sampai tingkat kelurahan/desa. Koordinasi dilakukan untuk mendukung upaya perubahan perilaku disiplin protokol kesehatan (prokes).

“Ini sampai ke tingkat mikro, dengan menggunakan sistem pelaporan peruba­han perilaku untuk menghasilkan data yang realtime, supaya dapat dilakukan tindakan dengan cepat,” ujar Wiku.

Berita Terkait : Cara Ampuh Lawan Covid-19: 3M+3T+Vaksin

Ketiga, pembatasan mobilitas di dalam negeri dan luar negeri untuk mencegah imported case. Pencegahan mulai dari daerah atau negara dengan kasus varian baru. Pembatasan ini melalui Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 No. 3 Tahun 2020 dan No. 4 Tahun 2020.

“Upaya Pemerintah ini tidak akan berhasil tanpa partisipasi dari masyarakat. Masyarakat diminta kerja samanya untuk disiplin mema­tuhi peraturan yang dibuat,” pintanya.

Wiku mengatakan, perkembangan beberapa negara dunia yang telah mengalami gelombang ketiga, terlihat peningkatan kasus dengan cakupan lapisan masyarakat yang lebih luas. Mulai bermunculan klaster-klaster pada kegiatan sektor sosial ekonomi yang mulai dibuka setelah terjadi pelandaian kasus.

Berita Terkait : Lihat Tuh, RS Sudah Penuh Stop Dulu Kongkownya Ya

“Seperti di Jepang, kontribusinya dari klaster tempat kerja. Kasus aktifnya tercatat 38.920 atau 16,15 persen,” ungkapnya.
 Selanjutnya