Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
FGD Dengan dr. Dicky Budiman
Gelombang I Tak Beres, Ini Pertanda Tak Sehat
Kamis, 31 Desember 2020 06:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sudah sekitar 10 bulan, Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Namun, kurvanya belum kunjung melandai. “Kalau gelombang pertama tidak beres, ini pertanda tidak sehat,” warning Epidemiolog Griffith University di Australia, dr Dicky Budiman.
Dicky mengatakan hal tersebut dalam Focus Group Discussion (FGD) Rakyat Merdeka, kemarin. Diskusi bertajuk Waspada Lonjakan Kasus Covid Pasca Liburan Akhir Tahun itu, dipandu Direktur Rakyat Merdeka, Kiki Iswara. Acara ini juga ditayangkan secara live di sejumlah akun jejaring media sosial Rakyat Merdeka .
Dicky memperkirakan, pasca-liburan akhir tahun, lonjakan kasus Covid-19 akan kembali terjadi. Sebagaimana lonjakan terjadi pasca-libur Lebaran, kerumunan demonstrasi hingga Pilkada. Setelah ini, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak lagi cukup hanya di Jakarta.Tapi harus se-pulau Jawa.
Baca juga : Vaksin Tetap Efektif, Sambil Bentengi Diri Dengan Prokes
Selain itu, strategi memutus mata rantai penularan juga tidak cukup lagi hanya dengan 3M:mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker. Akan tetapi harus 5M. Ada penambahan 2M, yakni membatasi interaksi dan menjauhi kerumunan. Kombinasi 3T atau testing, tracing dan treatment juga harus terus dipacu oleh Pemerintah.
Jika tidak, kata dia, Indonesia akan menjadi ladang subur penularan Covid-19. Termasuk mutasinya.
“Memang gelombang pertama kita ini belum selesai sampai saat ini,” kata Dicky.
Baca juga : Inovasi Promosi, Genjot Wisatawan Saat Pandemi
Jika kurva gelombang pertama itu masih belum melandai, artinya ada pertumbuhan kasus di bawah permukaan. Ada penyebaran kasus yang tidak terdeteksi.
“Ini PR (Pekerjaan Rumah) besar,” bebernya.
Ia menjelaskan, banyaknya kasus yang tidak terdeteksi, adalah salah satu penyebab kurva terus tumbuh. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada timbulnya penyakit dan kematian, akan tetapi juga akan menjadi lahan subur bagi terciptanya mutasi virus.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya