Dark/Light Mode

“Papalidan” Anak Remaja di Kota dalam Perspektif “Kota Manusia”

Sabtu, 6 Maret 2021 14:10 WIB
Dr. Tantan Hermansah, pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Anggota Komisi Infokom MUI Pusat.
Dr. Tantan Hermansah, pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Anggota Komisi Infokom MUI Pusat.

RM.id  Rakyat Merdeka - Mungkin dalam perjalanan menggunakan kendaraan, kita sering melihat sekelompok orang, paling sering remaja usia tanggung, bergerombol di pinggir jalan. Mereka terlihat sedang menunggu. Memang mereka sedang menunggu kendaraan lewat untuk dicegat. Mereka bukan membegal, meski tampaknya agak mirip. Mereka hanya menumpang kendaraan tersebut untuk pergi ke mana arah kendaraan melaju. Biasanya, jenis kendaraan yang dicegat adalah truk atau pick up.

Saat pandemi sekarang, pemandangan ini makin sering dan akhirnya jadi terlihat biasa saja. Komentar kita pun, mungkin biasa juga: “Ah, anak-anak namanya. Mungkin kesel di rumah”, atau sejumlah komentar lainnya.

Dalam istilah masyarakat Sunda, anak-anak yang melakukan hal seperti di atas, disebut sedang melakukan “Papalidan”. Papalidan dengan demikian merupakan tindakan menumpang sebuah kendaraan dengan mengikuti perjalanannya, yang dilakukan secara berkelompok.

Berita Terkait : Delusi Kota

Akan tetapi, jika kita renungkan lebih dalam, apa yang terlihat dengan kasat mata itu bisa menghentakkan pertanyaan kritis kita. Misalnya: “Mengapa anak-anak itu, yang usianya masih pelajar, berada di jalan? Bukannya waktu mereka seharusnya untuk menimba ilmu dari guru-gurunya di sekolah?”

Untuk membaca fenomena anak-anak jalanan temporal ini, tentu berbeda dengan anak-anak jalanan yang bisa dikatakan permanen. Anak jalanan permanen ini memang hidupnya mengandalkan keramahan eko-sistem kehidupan jalanan, seperti dari mengamen, mengemis, atau solidaritas sesama anak jalanan.

Berbeda dengan mereka, anak-anak yang melakukan “papalidan” ini adalah mereka yang umumnya punya keluarga, orang tua, uang jajan, dan kehidupan umum sebagai anak (anak). Maka, mengapa mereka melakukan papalidan?

Baca Juga : 3 Hari Beruntun, Drone Pemberontak Houthi Yaman Gempur Saudi

Tentu jawabannya bisa panjang. Namun, melihat situasi dan kondisi sekarang, fenomena anak yang melakukan “papalidan” tidak bisa dilepaskan dari aspek makro dan mikro sosial yang berhubungan langsung dengan kehidupan mereka.

Aspek mikro adalah keluarga. Secara ideal keluarga adalah tumpuan utama anak-anak mengasah kecerdasan sosial, membangun karakter, memperkuat resiliensi dan memperluas jaringan sosial. Aspek-aspek tersebut hadir dalam model pola asuh yang tentu memiliki kecukupan dalam berbagai pola asuh penunjangnya: ilmu pengetahuan, waktu, dan ruang sosial.

Sedangkan aspek makro adalah lingkungan sosial di luar keluarga. Lingkungan ini antara lain adalah lingkungan tempat mereka belajar dan bersosialisasi. Di mana idealnya, lingkungan di luar keluarga ini akan menjadi ruang sosial bagi anak-anak mempraktikkan tata cara berkehidupan dalam sebuah lingkungan yang lebih kompleks daripada keluarga.
 Selanjutnya