Dark/Light Mode

Urus Pandemi, Longsor, Banjir, Gempa

Doni Nggak Ada Capeknya

Selasa, 6 April 2021 07:28 WIB
Kepala BNPB Letjen Doni Monardo (berdiri) memimpin rapat penanganan bencana di NTT. (Foto: Twitter @BNPB_Indonesia)
Kepala BNPB Letjen Doni Monardo (berdiri) memimpin rapat penanganan bencana di NTT. (Foto: Twitter @BNPB_Indonesia)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo punya pekerjaan ekstra berat. Selama setahun lebih, dia berjibaku menjadi “panglima” dalam penanganan Pandemi Covid-19. Di saat yang sama, dia juga harus menguras tenaga untuk mengurusi penanganan bencana seperti longsor, banjir, dan juga gempa bumi. Dengan seabrek bencana yang dihadapi, Doni tak pernah ngeluh, juga kelihatan tak ada capeknya.

Saat ini, Doni “dapat pekerjaan baru”. Dia harus mengurus penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Bukannya lelah, Doni justru semakin semangat. Ia memilih turun langsung ke lokasi bencana daripada hanya memantau kerja anak buah dari belakang meja. 

Kemarin pagi, dia sudah tiba di NTT. Doni tampil agak beda. Biasanya, dia tampil dengan gaya khas: kemeja putih dibalut rompi cokelat BNPB. Kali ini, dia tambah dengan jaket hitam lengan panjang. Ini dilakukan untuk menahan dinginnya udara NTT yang diterjang badai, longsor dan banjir bandang laìhar dingin.

Berita Terkait : Doni Ingatkan Pentingnya Upaya Pencegahan Covid-19 Di Lokasi Bencana NTT

Doni sebenarnya mau berangkat ke NTT pada Minggu malam. Saat itu, dia sudah meluncur ke Bandara Halim Perdanakusuma. Namun, rencana itu batal. Sebab, penerbangan tidak memungkinkan. Saat itu, cuaca ekstrim masih menerjang NTT. Penerbangan pun ditunda menjadi pukul 5 pagi kemarin, dengan menggunakan pesawat ATR 72-500. Doni dan rombongan tiba di NTT sekitar pukul 10.30 WITA.

"Semalam sudah merencanakan untuk terbang secepat mungkin kemari, tapi dari penerbangan mengatakan tidak bisa," ungkap Doni, setibanya di Bandara Frans Seda Maumere, NTT, kemarin.

Setelah transit sebentar, eks Danjen Kopassus itu awalnya akan langsung terbang ke Larantuka, Flores Timur, salah satu lokasi terparah dihantam banjir. Tapi, lagi-lagi cuaca tak bersahabat. Ia tak bisa ke sana menggunakan pesawat. 

Berita Terkait : Jangan Ributin Politik Terus, Perhatiin Tuh Korban Banjir

Dihalang demikian, Doni tak kehilangan akal. Ia tetap ngotot menembus lokasi bencana dengan segera. "Kita putuskan menggunakan rute jalur darat," tegasnya.

Ke Larantuka memang masih bisa ditembus via darat. Tiba di sana, Doni langsung melakukan koordinasi dengan pejabat setempat di Kantor Bupati Flores Timur. Dalam rapat itu, ada sejumlah keputusan yang diambil. Salah satunya, Doni akan mengerahkan 3 helikopter. Dua heli untuk mengangkut logistik dan tenaga medis. Satunya lagi buat mengakomodir warga yang butuh pertolongan darurat. 

Heli sangat mendesak dibutuhkan. Sebab, beberapa desa terisolir setelah akses transportasi daratnya terputus akibat diterjang banjir dan longsor. "Kita sudah memerintahkan untuk mengirimkan helikopter," jelasnya.

Baca Juga : Untung, Ada Ngabalin Yang Berani Ngelawan

Selain itu, Doni juga melakukan koordinasi dengan TNI-Polri, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Pemda setempat dan tim gabungan lainnya untuk segera mengirimkan alat berat guna proses evakuasi terhadap korban yang tertimbun lumpur. Selesai rapat itu, Doni hendak langsung ke Pulau Adonara. Sayangnya, Doni harus mengurungkan niatnya. Sebab, gelombang laut cukup tinggi. Rencananya, dia akan berangkat hari ini. 
 Selanjutnya