Dark/Light Mode

Ada Tujuh Mutasi Covid-19 di RI, D614G Paling Banyak

Rabu, 12 Mei 2021 08:10 WIB
Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito. (Foto: Youtube Pusdalops BNPB)
Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito. (Foto: Youtube Pusdalops BNPB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyebutkan ada tujuh mutasi virus Corona yang terjadi di Tanah Air. Itu belum termasuk mutasi Covid-19 yang berasal dari luar negeri.

"Ancaman yang kita hadapi salah satunya adalah mutasi. Dari total 1.281 sequences di Indonesia dari berbagai tempat, sampel yang paling banyak adalah dari DKI Jakarta dan kedua Jawa Timur," ujar Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam diskusi virtual, Selasa (11/5) malam.

Yang pertama teridentifikasi adalah D614G, pada April 2020 di Tulungagung, Jawa Timur. Jumlah yang ditemukan sebanyak 1.209 mutasi dan tersebar di berbagai tempat.

Dijelaskan Wiku, D614G ini bisa meningkatkan ikatan reseptor ACE2 pada manusia. "Artinya lebih mudah virusnya menempel pada manusia," jelasnya.

Berita Terkait : 4.124 Pemudik Positif Corona, Bamsoet: Ini Peringatan!

Kemudian, pada bulan yang sama, ditemukan varian Q677H di Surabaya, Jawa Timur. Sudah ada 47 mutasi yang teridentifikasi. "Transmisinya masih dipelajari," imbuh Wiku.

Berikutnya, pada Oktober 2020 di Surakarta, Jawa Tengah, teridentifikasi L18F, yang jumlahnya 56 mutasi. Jenis ini bisa menginfeksi penyintas dan menghindari antibodi netralisir. 

Kemudian, November 2020, N439K teridentifikasi di Bekasi, Jawa Barat. Kini, sebanyak 261 mutasi tersebar di berbagai tempat.  Seperti D614G, N439K juga ini bisa meningkatkan ikatan reseptor ACE2 pada manusia, plus resistensi antibodi.

Pada bulan yang sama, di Medan, Sumatera Utara, E484Q teridentifikasi sebanyak dua mutasi. Varian ini mengakibatkan gangguan ikatan spike RBD E484 dengan K31 pada antarmuka ACE2.

Berita Terkait : Kasus Covid-19 Naik, RS Banda Aceh Nyaris Penuh

Terbaru, Januari 2021, teridentifikasi N501Y di Palembang, Sumatera Selatan, yang kini jumlahnya sebanyak 15 mutasi. Jenis ini memiliki kemampuan peningkatan kemampuan transmisi dibandingkan sebelumnya.

Masih di Januari 2021, E484K teridentifikasi pada di Batam, Kepulauan Riau, dengan jumlah tiga mutasi. Jenis tersebut bisa menghindari antibodi netralisir pasca vaksinasi dan menghindari antibodi menonaktifkan untuk terapi.

"Jadi ada berbagai mutasi yang sudah ditemukan di Indonesia. Ini alarm buat kita di mana kasus dunia naik. Micro lockdown di beberapa tempat di Indonesia, mungkin itu suatu pilihan kalau kasusnya tidak bisa dikendalikan," tegas Wiku.

Sementara varian impor yang masuk ke Tanah Air, ada 25. Rinciannya, B.1.1.7 sebanyak 13 dengan sebaran sebanyak 5 di DKI Jakarta, 2 di Sumatera Utara, 2 di Jawa Barat, serta masing-masing 1 di Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, dan Bali.

Berita Terkait : Kapolri Sebut Larangan Mudik Lindungi Masyarakat dari Varian Baru Covid-19

Kemudian, ada 10 varian B.1.617 yang tersebar terbanyak di Sumatera Selatan dengan jumlah 4, disusul Kalimantan Selatan dan DKI Jakarta masing-masing sebanyak 3. Lalu, ada varian B.1.315 sebanyak 1 di Bali, dan B.1525 yang juga ditemukan 1 di Kepulauan Riau.

"Pada prinsipnya kita nggak usah khawatir dengan mutasi itu selama kita bisa mengendalikan penularan," imbuhnya.

Saat ini, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan penularan adalah dengan kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

"Ini kebijakan berlapis, semuanya dalam satu komando. Koordinasinya pusat-daerah betul-betul kita jaga, terstruktur rapi ke bawah agar semuanya betul-betul terkendali," tandas Wiku. [JAR]