Dewan Pers

Dark/Light Mode

Jangan Umbar Data Diri Dan Aktivitas Di Sosmed

Jumat, 18 Juni 2021 16:38 WIB
Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Provinsi Bali I Gede Putu Krisna Juliharta. (Foto: Ist)
Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Provinsi Bali I Gede Putu Krisna Juliharta. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sosial Media (Sosmed) tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari saat ini. Meski begitu, tidak ada yang bisa menjamin keamanannya data pribadi. Karenanya, masyarakat harus menjaganya, agar tidak menjadi korban kejahatan.

Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Provinsi Bali I Gede Putu Krisna Juliharta mengatakan, banyak aktivitas digital yang dianggap sepele, namun sebenarnya membahayakan data privasi untuk keperluan ekonomi. Misalnya, menyebarkan KTP dan nama ibu kandung.

Kata Krisna, data privasi merupakan hak individu, akan dikomunikasikan dengan pihak lain atau tidak. Hal seperti ini sering terjadi, misalnya ketika kita mendaftar di suatu tempat.

"Kalau ada yang meminta data pribadi harus kritis bertanya. Akan diapakan data kita, bagaimana pihak pengelola itu akan melindungi data kita. Sehingga jangan sampai data tersebut bisa dimanfaatkan atau digunakan oleh pihak-pihak yang lain," ungkapnya saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (18/6).

Berita Terkait : Epidemiolog Sarankan Masyarakat Hentikan Sementara Aktivitas

Sebagai pemilik data, kita harus memberi izin data kita dipegang pihak ketiga. Khawatirnya, data tersebut malah disalahgunakan pihak lain. Sayangnya, kita tidak sadar ternyata itu adalah privasi.

Informasi mengenai diri kita yang lain, juga sangat penting untuk disimpan. Seperti nama detail anak, aktivitas anak, tanggal lahir anggota keluarga, dan lainnya.

"Lebih baik tidak perlu diumbar, sebab jika memang ada yang berniat membuat profil tentang kita akan lebih mudah. Dari tanggal lahir keluarga dapat digunakan sebagai password. Bisa jadi ada seseorang yang mengintai kita membuat profil kita untuk tindak kejahatan," pesannya.

Menjaga privasi anak juga sebenarnya merupakan upaya menjauhi anak dari kejahatan di dunia digital. Ia menyarankan, tidak membuat medsos untuk anak yang masih kecil. Juga agar selektif dalam memilih aplikasi, gunakan yang memang disediakan vendor seperti di Playstore atau iStore.

Berita Terkait : Pembangunan Ibu Kota Negara Akan Perhatikan Kearifan Lokal

Untuk tetap aman dalam bermedsos, sebaiknya tidak mendaftar menggunakan akun Facebook. Biasanya di aplikasi game sering diminta untuk mendaftar menggunakan Facebook. Memang lebih mudah namun yang terjadi data di Facebook kita menjadi milik mereka.

"Di Facebook juga suka ada kuis, seperti apa kepribadian kita, jadi apa kita di masa depan atau judul lain yang berbeda-beda. Melibatkan pihak ketiga. Sebaiknya tidak diikuti karena mereka akan mengambil data kita di Facebook," ingat Krisna.

Tidak lupa juga, lanjutnya, untuk melakukan pembaruan aplikasi software setiap kali ada pemberitahuan dari pengembang. Mengenai password pun juga ada cara khusus yakni dengan mencampur huruf dan angka. Hati-hati dengan url atau alamat website yang disingkat, agar semakin aman cek website apakah pernah mereka melanggar data pengguna di haveibeenpwned.com.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini diprakarsai Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemkominfo RI) bersama Sinerkreasi.

Berita Terkait : Maung Bandung Patok Juara Di Piala Walikota Solo

Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada tahun 2024. Kegiatan ini bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. [MEN]