Dark/Light Mode

Jelang Libur Hari Pancasila, Rupiah Malah Lemes

Senin, 31 Mei 2021 09:44 WIB
Rupiah dan dolar AS. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Rupiah dan dolar AS. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jelang libur Hari Pancasila, hari ini nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis sebesar 0,1 persen ke level Rp 14.300 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan Jumat (28/5) di Rp 14.285 per dolar AS.

Mayoritas mata uang di kawasan Asia mengalami penguatan terhadap dolar AS. Solar Taiwan menguat 0,20 persen, peso Filipina naik 0,15 persen, yen Jepang menguat 0,13 persen, yuan China naik 0,05 persen, won Korea Selatan baik 0,04 persen dan dolar Singapura melonjak 0,02 persen.

Sementara itu, Indeks dolar AS terhadap enam mata uang sainggnya turun 0,02 persen ke level 90,012. Pergerakan rupiah terhadap euro pun menguat 0,14 persen ke level Rp 17.436, terhadap poundsterling Inggris juga naik 0,14 persen ke level Rp 20.293, dan terhadap dolar Australia naik 0,03 persen ke level Rp 11.037.

Berita Terkait : Jelang Akhir Pekan, Rupiah Malah Loyo

Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah hari ini bisa dipengaruhi dari berbagai sentimen. Dari luar negeri, data yang dirilis di AS pada hari Kamis (26/5), 406.000 klaim pengangguran awal diajukan sepanjang minggu. Angka tersebut mencapai titik terendah dalam 14 bulan setelah PHK mereda. 

“PDB AS meningkat 6,4 persen kuartal ke kuartal selama kuartal I-2021, sedikit di bawah pertumbuhan 6,5 persen dalam perkiraan analis,” katanya dalam riset, Senin (31/5).

Namun, Presiden Federal Reserve Bank Dallas AS Robert Kaplan memperingatkan, pasar tenaga kerja lebih ketat daripada yang disarankan oleh tingkat ketenagakerjaan.

Berita Terkait : Vitamin BI Cocok, Rupiah Melesat

Secara bersamaan laporan oleh New York Times bahwa Presiden Joe Biden mengumumkan anggaran 6 triliun dolar AS untuk tahun 2022, guna memastikan investasi dalam proyek infrastruktur, pendidikan dan perawatan kesehatan utama. 

“Jika ini berhasil melewati Kongres yang terpecah, pengeluaran federal akan mencapai tingkat tertinggi sejak Perang Dunia II,” jelas Ibrahim.

Dari sisi internal, salah satu sektor yang akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi adalah penurunan suku bunga kredit perbankan. Penurunan suku bunga kredit perbankan sampai saat ini belum signifikan, meskipun kebijakan transparansi suku bunga kredit (SBDK) sudah diberlakukan.

Berita Terkait : Banyak Vitamin, Rupiah Makin Perkasa

“Maka seyogyanya perbankan baik perbankan plat merah maupun swasta, kembali menurunkan suku bunga kreditnya tanpa harus ada teguran dari Bank Indonesia (BI),” tuturnya.

Karena penurunan kredit perbankan merupakan bagian dari kebijakan pemerintah agar ekonomi kembali pulih, proyek infrastruktur kembali berjalan dan pengangguran kembali berkurang.

Ia pun memproyeksi, rupiah dapat bergerak menguat pada hari ini, di rentang Rp 14.270-Rp 14.310 per dolar AS. [DWI]