Dewan Pers

Dark/Light Mode

Stunting, Ancaman Bagi Potensi Bonus Demografi Indonesia

Kamis, 29 Juli 2021 13:39 WIB
Stunting, Ancaman Bagi Potensi Bonus Demografi Indonesia

RM.id  Rakyat Merdeka - Stunting tidak hanya membawa dampak negatif pada hidup anak Indonesia, tapi juga mengancam potensi bonus demografi negeri berpenduduk terbesar keempat di dunia ini. Untuk itu, penting bagi pemerintah untuk memastikan pemenuhan gizi anak sedini mungkin demi pertumbuhan yang baik.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arumdriya Murwani mengatakan, stunting yang terjadi ketika anak mengalami kekurangan asupan gizi dalam waktu yang lama dan menerus, menghambat pertumbuhan fisik dan mental anak.

Berita Terkait : Pancamain Bikin Anak Senang Dengan Pancasila

“Akibatnya adalah anak tidak mengalami pertumbuhan fisik yang maksimal. Tinggi badan anak stunting biasanya lebih pendek dari rata-rata tinggi anak seusianya. Tidak hanya berdampak pada fisik, kecerdasan anak stunting biasanya juga tidak lebih baik daripada anak yang tidak mengalami stunting dan cenderung lebih mudah mengalami masalah kesehatan,” ujarnya.

Laporan 2021 State of Food Security and Nutrition in the World, memperkirakan stunting di Indonesia mencapai 31,8 persen pada tahun 2020. Stunting acap kali dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan dikaitkan dengan genetika orang tua, bukan dengan malnutrisi, sehingga cenderung diabaikan.

Berita Terkait : Latih Persija, Angelo Siap Belajar Bahasa Indonesia

Padahal stunting tidak hanya mempengaruhi kondisi fisik tapi juga perkembangan otak dan dalam jangka panjang berpengaruh pada menurunnya produktivitas dan membengkaknya biaya kesehatan.

Ia menambahkan, kekurangan mikronutrien penting, seperti yang berasal dari protein hewani, dapat menurunkan mutu pola makan dan menimbulkan risiko malnutrisi dan stunting pada anak-anak.

Berita Terkait : Bamsoet Ajak Milenial Optimalkan Bonus Demografi

Selain itu, studi Mertens & Peñalvo di 2021 memperlihatkan malnutrisi juga membawa risiko penurunan imun, dan meningkatkan kerawanan balita, anak-anak, remaja dan usia lanjut selama pandemi Covid-19.
 Selanjutnya