Dark/Light Mode

Ekspresi Beragama dalam Realitas Virtual

Senin, 2 Agustus 2021 09:00 WIB
Tantan Hermansah, Doktor Sosiologi Universitas Indonesia (UI), Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom MUI Pusat
Tantan Hermansah, Doktor Sosiologi Universitas Indonesia (UI), Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom MUI Pusat

RM.id  Rakyat Merdeka - Pandemi telah mengubah banyak dalam kehidupan sehari-hari ummat manusia saat ini. Mulai dari hubungan antar orang, tata cara bekerja, bisnis, bahkan belajar dan beribadah.

Kemudian beberapa istilah hadir dan dijadikan bagian dari kehidupan kita. Saturasi, disrupsi, kreasi, New Normal , PSBB, PPKM, CT, dan sebagainya menjadi hal yang harus dikenal, selain tentu 3M, 5M dan beragam singkatan lainnya.

Ragam perubahan yang demikian cepat ini, beruntungnya terjadi ketika manusia sudah menemukan ragam teknologi dan aplikasi berbasis internet. Dengan teknologi ini, kita semua memiliki kesempatan untuk mengelola era disrupsi ini tidak terlalu terbata-bata.

Baca Juga : TaniHub Group Terus Tingkatkan Pelayanan Meski Pandemi

Media sosial, gawai, dan internet sendiri bisa diklaim sebagai temuan yang paling radikal mengubah tananan sosial budaya manusia modern. Di mana manusia modern melalui teknologi ini, kemudian bisa seperti saling bersahut-sahutan untuk menemukan hal baru yang lain, yang juga tidak kalah berpengaruh kepada kehidupan aktual ummat manusia ini.

Mari kita lihat, ditemukannya media sosial, sebagai wujud dari teknologi sosial, telah menginterupsi banyak hal. Tadinya, media sosial hanya wadah untuk mengekspresikan sesuatu pada wall yang tersedia. Lalu berubah menjadi ruang diskusi, lalu menjadi media kreasi, bahkan kemudian menjadi sarana branding dan publikasi.

Termasuk di dalam media sosial itu selain untuk membangun dan atau memperkuat narasi, media sosial juga telah berubah menjadi sarana lain yang bebas. Jualan, kenalan, mencari jodoh, dan apa saja selama ia tidak bertentangan dengan Undang-Undang yang berlaku.

Baca Juga : Sambut Kedatangan Kloter Pertama Tim Bulutangkis Indonesia, Ini Pesan Ketum PBSI

Coba bayangkan, apa jadinya jika internet tidak ditemukan; Jika media sosial tidak diciptakan; Jika orang-orang tidak membuat aplikasi jualan, foto, edit video, dan sebagainya, lalu terjadi wabah seperti sekarang ini. Meski yang mengoptimalisasikan media tersebut tidak semua orang, tetapi kita yakin bahwa lebih banyak orang yang merasa mendapatkan manfaat karena media tersebut. Mungkin kita menjadi orang yang mengalami kegabutan ekstrim; disorientasi, dan bahkan kehilangan jati diri.

Karena sudah dari sananya, manusia adalah mahkluk sosial. Mahkluk yang membutuhkan relasi-relasi pribadi dan kelompok. Hati dan perasaan manusia yang demikian luas itu, tidak akan asyik jika dihuni sendirian. Harus ada orang lain yang mengisi, menghidupkan, saling membagi kesempatan, saling menumbuhkan kepedulian, serta sejumlah aktivitas lain yang melibatkan orang lain. Manusia, pada intinya, tidak akan mampu hidup tanpa ada orang lain di sampingnya.

Kebutuhan bersama orang lain atau manusia lainnya dalam mengukir sejarah kehidupannya, selain merupakan kebutuhan personal-individual, juga untuk memenuhi kebutuhan pragmatis-ekonomis. Selain itu, kebersamaan ini juga untuk memenuhi kebutuhan spiritual. Lihat saja, kebanyakan ibadah manusia itu membutuhkan mitra atau teman atau jamaah.
 Selanjutnya