Dark/Light Mode

Berkomunikasi Cara Tulis Baru Menggunakan Cara Tulis lama

Kamis, 7 Oktober 2021 18:58 WIB
Amelya Nugroho
Amelya Nugroho

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada hal menarik yang disuguhkan oleh program besutan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) yang bertajuk Merajut Indonesia, Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN), yaitu sebuah aplikasi yang mereka sebut sebagai Transkara. Aplikasi itu mencoba mengkonversi penulisan Bahasa Daerah atau Bahasa Indonesia dalam huruf latin ke beberapa aksara daerah, demikian pula sebaliknya. Aksara Daerah yang dimaksud adalah Aksara karya leluhur bangsa indonesia yang dulu umum digunakan pada masanya untuk mengekspresikan bahasa yang masih eksis sampai saat ini, ratusan tahun lalu.

Seperti yang tertera pada keterangannya, aplikasi tersebut coba mengkonversi : • Latin ke Aksara Sunda • Latin ke Aksara Jawa • Latin ke Aksara Bali • Latin ke Aksara Batak • Latin ke Aksara Rejang • Aksara Sunda ke Latin • Aksara Jawa ke Latin • Aksara Bali ke Latin • Aksara Batak ke Latin • Aksara Rejang ke Latin Bisa diakses oleh publik melalui website dengan alamat internet: merajutindonesia.id/transkara.

Setelah melakukan beberapa ujicoba dengan bantuan beberapa akademisi dan pegiat aksara di beberapa daerah, bisa disimpulkan bahwa baru tiga aksara saja, yaitu Sunda, Jawa dan Bali yang bisa dikatakan cukup memadai sesuai dengan aturan tata tulis yang benar menurut standar tata tulis aksara masing-masing. Mungkin hal itu menjadi relevan dengan apa yang sedang dilakukan oleh PANDI, baru tiga aksara (Sunda, Jawa dan Bali) saja yang sudah siap dengan standar aksara (font) dan trasliterasi (adalah penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad bahasa lain), seperti informasi yang dikutip dari laman situs internet milik BSN (BSN.go.id) pada tanggal 29 Juli 2021 yang berjudul “Tiga Aksara Daerah Didaftarkan ke BSN).

Baca Juga : Realisasi Pembentukan Pertahanan Rakyat Semesta

Berkomunikasi cara baru yang dimaksud pada tulisan ini adalah sebuah cara menulis kata atau kalimat atau pesan dengan menggunakan aksara daerah kepada rekan yang tentu dianggap memahami penggunaan aksara tersebut, entah melalui media sosial publik, seperti Facebook atau Instagram, atau yang bersifat pribadi melalui media komunikasi Whatsapp. Meskipun kita baru hanya memahami huruf latin, dengan menggunakan aplikasi dimaksud dan menggunakan trik copas (copy paste), maka komunikasi menjadi lancar.

Kita bisa menjadi terasa lebih akrab berkomunikasi secara informal dengan teman yang berasal dari Bali, walau belum seberapa lama kenal, entah karena dia paham aksara Bali atau mau menggunakan aplikasi yang sama. Komunikasi informal tersebut bisa membangun sebuah makna keakraban yang lebih mendalam karena kita berusaha mengajak bicara dengan membangun suasana yang melibatkan emosional yang positip. Dalam teori komunikasi, selain kita harus berusaha menyampaikan pesan yang jelas untuk bisa diterima oleh penerima pesan, empati merupakan bagian penting dalam membangun komunikasi yang baik.

Sebuah gagasan datang dari seorang rekan pria muda yang ingin menjalin komunikasi secara pribadi dengan teman intimnya (kekasih), maksudnya sebuah cara komunikasi yang cenderung menjamin kerahasiaan isi pesan masing-masing. Ia seperti terinspirasi hal itu karena sejauh ini, komunikasi diantara mereka sering dipantau oleh orang tuanya, meskipun sudah menggunakan Bahasa asing yang mereka mampu kuasai, namun Sang Orang Tua tetap mampu menangkap pesan tersebut, karena masih menggunakan huruf latin. Ia berpendapat, pesan-pesan dalam kalimat mereka akan akan sulit dipahami oleh orang lain, padahal menggunakan Bahasa Indonesia.

Baca Juga : Kiai Said: Nggak Ada Batasan, Nggak Ada Masalah, Gus Dur Juga 3 Kali

Era digital bukan saja telah menghadirkan berbagai cara untuk setiap individu atau kelompok melakukan komunikasi, tapi juga berbagai variasi dalam berkomunikasi.

Selamat mencoba !

Amelya Nugroho, Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana