Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tolak Kenaikan Cukai, Buruh Serahkan Lukisan Ke Jokowi

Sabtu, 16 Oktober 2021 14:22 WIB
Puluhan pekerja Industri Hasil Tembakau (IHT) tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman (FSP RTMM) melakukan aksi jalan bersama dari Ciracas hingga ke Istana Negara, Jakarta. (Foto: Ist)
Puluhan pekerja Industri Hasil Tembakau (IHT) tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman (FSP RTMM) melakukan aksi jalan bersama dari Ciracas hingga ke Istana Negara, Jakarta. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Puluhan pekerja Industri Hasil Tembakau (IHT) yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman (FSP RTMM) melakukan aksi jalan bersama dari Ciracas hingga ke Istana Negara, Jakarta.

Para pekerja juga menyerahkan lukisan yang menggambarkan penderitaan petani dan pekerja linting kepada Presiden Joko Widodo. Lukisan tersebut diterima oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat (Kabiro Humas) Kementerian Sekretariat Negara Edi Cahyono.

Ketua Umum FSP RTMM Sudarto mengatakan, aksi ini merupakan aspirasi dari para pekerja IHT di Indonesia. Aksi ini dilakukan untuk meminta Pemerintah tidak menaikkan Cukai Hasil Tembakau (CHT), khususnya segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang padat karya.

"Lukisan ini menggambarkan kelangsungan pekerjaan pekerja IHT yang telah dan akan terus terbelenggu oleh kenaikan cukai rokok tiap tahun. Harapannya ketika Bapak Presiden melihat lukisan ini, beliau akan senantiasa ingat untuk memperhatikan penghidupan kami," ujarnya dalam keterangan resminya, Sabtu (16/10).

Berita Terkait : Kapolda Tegaskan Papua Aman Selama PON XX

Sudarto menjelaskan, jumlah pekerja IHT dalam organisasi yang dipimpinnya adalah 243 ribu orang, di mana sebanyak 153 ribu orang lebih bekerja di segmen SKT yang padat karya.

Dalam 10 tahun ini, kata Sudarto, sebanyak 60.800 anggota RTMM yang bekerja di industri rokok khususnya SKT telah kehilangan pekerjaan. Dampak kenaikan cukai rokok terhadap para pekerja IHT yang rata-rata perempuan dengan pendidikan terbatas ini dinilai akan sangat besar jika pemerintah abai dan tetap menaikkan tarif cukainya.

"Setahun rata-rata 6 ribu orang kehilangan pekerjaan di SKT karena berbagai regulasi termasuk kenaikan cukai. Kami tidak antiregulasi, tapi kami mohon regulasi harus memberikan dampak keadilan khususnya untuk pekerja rokok SKT yang korbannya sudah sangat besar," ungkapnya.

Sudarto menjelaskan, para pekerja IHT, khususnya di segmen SKT, serta petani sangat mengharapkan perhatian pemerintah agar diselamatkan dari kenaikan cukai hasil tembakau.

Berita Terkait : Gencarkan Penjualan, Modernland Cilejit Hadirkan Hunian Milenial

"Kami memohon perlindungan kepada Bapak Presiden agar kami dapat kepastian dan jaminan hak untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak demi kemanusiaan sesuai UUD 1945 pasal 27 ayat 2," tegasnya.

Kabiro Humas Edi Cahyono mengaku berterima kasih dan menerima masukan dari perwakilan pekerja IHT tersebut.

"Hasil diskusi kami dengan Kemenkeu, bahwa saat ini permasalahan ini sedang difinalisasi untuk penyesuaian dan perhitungan tarif cukainya di internal Kemenkeu," katanya.

Edi mengatakan, sebelumnya Kemensetneg juga telah meneruskan aspirasi surat dari para pekerja IHT tersebut kepada kementerian dan lembaga yang terkait dengan industri hasil tembakau seperti Kemenko Perekonomian dan Kementerian Keuangan.

Berita Terkait : Kebijakan Cukai Tembakau Harus Lindungi Buruh Dan Petani

"Segala informasi dan aspirasi dari publik merupakan suatu keniscayaan, dan data yang sudah disampaikan menjadi masukan untuk pengambilan keputusan. Untuk itu kami sudah merespons surat-surat tersebut ke Kementerian Keuangan untuk menindaklanjuti aspirasi tersebut untuk mencapai win win solution," jelasnya. [KPJ]