Dark/Light Mode

WFH dan Ancaman The Lost Productive Generation

Kamis, 21 Oktober 2021 13:45 WIB
Dr. Tantan Hermansah, pengampu MK Sosiologi Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Anggota Komisi Infokom MUI Pusat
Dr. Tantan Hermansah, pengampu MK Sosiologi Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Anggota Komisi Infokom MUI Pusat

 Sebelumnya 
Namun demikian, ada yang tidak disadari bahwa setiap kebijakan tidak selalu positif 100 persen. Artikel sederhana ini ingin menjelaskan bahwa ada potensi negatif yang hadir seiring dengan kebijakan di atas, yang jika tidak segera direspons, bisa menjadi ancaman serius.

Ancaman tersebut hadir terutama pada entitas masyarakat yang secara permanen masuk pada sektor yang dibutuhkan masyarakat luas. Sebab sektor ini berbeda dengan sektor seperti pariwisata yang kemudian memilih gulung tikar, tetapi harus tetap berjalan, seperti pendidikan dan kesehatan.

Baca juga : Hadapi Gelombang Pandemi, Disiplin Prokes Harga Mati

Adapun regulasi yang disebutkan mengancam tersebut adalah kebijakan WFH (work form home) atau bekerja dari rumah. Secara kebijakan, WFH adalah terobosan kebudayaan dalam sistem dan budaya bekerja selama ini. Dengan WFH, kita meminimalisasi kerumunan dan interaksi fisik, yang tentu sangat berisiko terpapar. Sehingga dengan WFH risiko terpapat tersebut bisa berkurang.

Lalu, mengapa WFH justru memiliki dampak sampingan yang tidak kalah mengancam, dan apakah ancaman tersebut?

Baca juga : Pembenah Tanah Organik Tingkatkan Produktivitas Sayuran

Ketika kebijakan WFH diberlakukan kepada sebagian sektor yang terkena dampak, maka banyak kantor yang memilih mempekerjakan para pegawainya di rumah. Kebijakan ini di awal-awal, seperti biasa, menghasilkan pro dan kontra. Misalnya ketidakefektifan tata kelola pekerjaan, metode, sarana pendukung dan sebagainya.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak institusi yang kemudian meng-upgrade ragam kapasitasnya, sehingga bisa merespons kebijakan itu dengan upaya yang optimal.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.