Dark/Light Mode

WFH dan Ancaman The Lost Productive Generation

Kamis, 21 Oktober 2021 13:45 WIB
Dr. Tantan Hermansah, pengampu MK Sosiologi Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Anggota Komisi Infokom MUI Pusat
Dr. Tantan Hermansah, pengampu MK Sosiologi Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Anggota Komisi Infokom MUI Pusat

 Sebelumnya 
Setelah melewati satu tahun wabah, WFH kemudian telah menjadi biasa. Banyak orang sekarang justru mulai beradaptasi dengan serius. Meja dan ruang kerja dibuat sangat serius. Ada yang sudah mengadaptasi green screen, tata cahaya, gawai dan gadget yang mumpuni, serta ruangan yang nyaman.

Hal ini semata-mata dilakukan untuk mengubah suasana agar tetap nyaman dan produktif. Sebab jam kantor WFH jelas tidak berbeda dengan jam kantor biasa. Bahkan kadang-kadang bisa lebih lama. Misalnya, jika di era kantor konvensional kegiatan akan terbatasi jam kerja (office hour), saat ini kadang kegiatan dilanjutkan sampai malam, sampai beres.

Baca juga : Hadapi Gelombang Pandemi, Disiplin Prokes Harga Mati

Salah satu upaya menyamankan suasana dan produktivitas kerja adalah menghadirkan ragam makanan dan atau camilan. Ruang kerja yang dekat dengan ruang makan serta makanan yang selalu tersedia dan mudah dalam jangkauan, menyebabkan suasana WFH memang berbeda signifikan daripada di kantor konvensional. Akibatnya, banyak dari mereka yang melakukan WFH merasakan kenaikan bobot tubuh yang signifikan selama mereka menerapkan WFH ini.

Bobot tubuh yang meningkat tajam ini, dalam jangka panjang tentu merupakan ancaman bagi kesehatan pelaku WFH, maupun institusi tempat pelaku bekerja. Sebab kita tahu, ada batas ideal antara tinggi badan, usia dan bobot tubuh.

Baca juga : Pembenah Tanah Organik Tingkatkan Produktivitas Sayuran

Jika semua tidak seimbang, maka subyek pelaku akan terancam kesehatannya. Jika kesehatan mereka akhirnya terganggu maka bisa dipastikan pekerjaannya pun akan terbengkalai dan bahkan sumber daya ekonomi atau keuangannya pun akan terganggu.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.