Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tetapkan Tiga Syarat Pendanaan Di Startup

Erick Bikin Tim Kurasi Kawal Investasi BUMN

Senin, 15 Nopember 2021 06:50 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Istimewa).
Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meningkatkan kehati-hatian di dalam berinvestasi dengan perusahaan rintisan (startup). Salah satunya, dengan membentuk tim kurasi dan menetapkan syarat kerja sama.

Menteri BUMN Erick Thohir menyebutkan tiga syarat itu. Yakni, pendirinya orang Indonesia, perusahaan harus beroperasi dan go public-nya di Indonesia.

“Kami sekarang membentuk tim kurasi. Sehingga investasinya itu benar berdasarkan tiga hal tadi. Yang penting penuhi semua itu,” tegas Erick dalam diskusi CEO (Chief Executive Officer) Live Series secara virtual, di Jakarta, Kamis (11/11).

Sebagai bagian dari Merah Putih, lanjut Erick, tentunya BUMN harus mendukung kreator dan konten lokal, guna memastikan pasar Indonesia digunakan untuk pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

“Kami tidak anti asing, tetapi juga tidak mau pasar kita digunakan untuk pertumbuhan negara lain. Kita harus memastikan market Indonesia untuk pertumbuhan bagi negara,” tandas Erick.

Selanjutnya, dalam memberikan pendanaan startup, BUMN bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak. Dan tentunya dengan tetap mengedepankan nasionalisme Merah Putih.

Berita Terkait : Dari UEA, Erick Terbang Ke Qatar, Jajaki Kerja Sama Investasi Dengan BUMN

Saat ini, lanjut Erick, pihaknya juga sedang mencoba untuk memperbaiki sistem dari investasi yang ada di perusahaan pelat merah.

“Dari BUMN, kita punya Telkom, Telkomsel, Mandiri, BRI, yang sudah masuk ke sektor pendanaan bagi startup,” kata mantan Bos Inter Milan ini.

Erick menuturkan, pihaknya lebih hati-hati karena tidak ingin BUMN membabi buta berinvestasi di startup tanpa tujuan yang jelas. Apalagi jika berinvestasinya memakai dana pensiun. Kemudian, terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti pada kasus Asabri.

“Saya juga tidak mau semua BUMN tanpa expertise atau keahlian, tiba-tiba investasi semuanya di startup. Ini perlu dikonsolidasikan karena proses bisnis sangat penting,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, salah satu BUMN yang getol mengucurkan pembiayaan kepada startup adalah Telkom dan anak usahanya, Telkomsel. Untuk itu, Erick melakukan refocusing bisnis keduanya. Ini agar BUMN bisa berpihak kepada perusahaan rintisan atau startup muda Indonesia.

Erick mengatakan, jika bicara ekosistem digital, Kementerian BUMN mengembalikan Telkom dan Telkomsel kepada bisnis yang diinginkan. Telkomsel menjadi digital company dan Telkom menjadi services company. Karena itu, sejak awal dirinya meminta Telkom untuk refocusing kepada data center, jaringan, infrastruktur fiber optic, dan sebagainya.

Berita Terkait : Gaet Investasi, Bahlil Pakai Gaya Juventus

Dengan begitu, keduanya bisa memiliki ekosistem baru. “Kami berpihak kepada startup-startup muda Indonesia, yang selama ini dibantu investasinya oleh asing. Kita bisa masuk untuk membantu startup-startup tersebut. Kita beri kesempatan anak muda Indonesia berkarya,” tuturnya.

Untuk itu, Kementerian BUMN sedang melakukan konsolidasi besar-besaran, dan tengah membuat sistem kurasi untuk investasi digital.

Jika berkaca di China, lanjut Erick, mereka memiliki 105 startup besar. Sementara Indonesia baru memiliki lima startup besar.

“Amerika Serikat lebih jauh lagi. Mereka punya 257 startup. Kalau kita bisa seperempat saja dari China, maka ada potensi 25 startup yang namanya futures dari pada pemain besar di Indonesia,” rincinya.

Saat ini Telkomsel telah mendanai startup pontensial, melalui anak usahanya lagi, yakni Telkomsel Mitra Inovasi (TMI). Telkomsel menyuntikkan dana lebih dari 40 juta dolar AS(Rp 570,7 miliar) dalam pengembangan startup seperti Kredivo, PrivyID, Qlue, Halodoc, Tanihub, Tada, SiCepat, dan Inspigo.

Telkomsel juga secara langsung sudah menyuntikkan dana di PT Karya Anak Bangsa (Gojek) dengan total nilai 450 juta dolar AS(Rp 6,42 triliun). Kolaborasi ini punya misi besar mendigitalisasi jutaan UMKM yang selama ini jadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Membawa UMKM naik kelas menjadi bisnis kekinian.

Berita Terkait : Bahlil Kantongi Komitmen Investasi Taiwan Hon Hai

Terpisah, Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Nailul Huda menuturkan, langkah Telkomsel berinvestasi pada startup merupakan fondasi untuk menjadi digital ecosystem company. Core Business Telkomsel pun ada di bisnis teknologi dan informatika.

Dengan suntikan dana Telkomsel ke Gojek ataupun lainnya, bisa membuat langkah Telkomsel jika ingin bekerja sama dengan startup tersebut lebih mudah.

“Langkah ini juga dinilai sebagai investasi saham ke perusahaan potensial IPO (Initial Public Offering) ke depannya. Jadi secara nilai akan menguntungkan,” jelas Huda kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Investasi ke startup ini juga bagian dari skema kerja sama untuk mendorong ekosistem digital. Sehingga Telkomsel tidak hanya menjadi penikmat bisnis jaringan komunikasi saja, tetapi juga terlibat dalam bisnis digital.

Terlebih lagi, sambung Huda, suntikan modal ke startup bisa menguntungkan induknya, yakni Telkom Indonesia. Seperti halnya yang dilakukan SoftBank dahulu ke Alibaba. Investasi ini bisa mendongkrak valuasi Telkom di pasar modal.

“Saham-saham teknologi sudah terbukti memimpin top ranking kapitalisasi pasar di bursa global. Khususnya di Amerika Serikat sejak belasan tahun lalu,” ucap Huda. [DWI]