Dark/Light Mode

Gotong Royong Bantu Tetangga Positif Corona

Kamis, 3 Desember 2020 01:08 WIB
Ngopi - Gotong Royong Bantu Tetangga Positif Corona
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Semakin masifnya penyebaran Virus Corona membuat warga di kompleks perumahan kami, di Pondok Petir, Depok, waswas dan khawatir. Apalagi, virus asal China itu ternyata sudah "mampir" di kompleks kami. Warga kami, seorang ibu paruh baya, terkonfirmasi positif Covid-19. Saat ini, dia masih menjalani isolasi mandiri di rumah.

Kejadian bermula saat libur panjang akhir Oktober lalu. Saat itu, dia mengunjungi salah satu keluarganya di Bogor. Dia ditemani salah satu anaknya yang paling besar. Tidak sampai menginap. Pergi pagi, pulang malam.

Tiga hari berselang, dia merasa kurang enak badan. Demam tinggi. Tulang sendi terasa ngilu. Hal ini berlangsung selama seminggu. Setelah minum obat penurun panas, demam mulai turun, tapi tak lama. Menjelang tengah malam, demam kembali tinggi. Kondisinya semakin parah dengan hilangnya indera penciuman dan perasa atau anosmia.

Berita Terkait : Takziah Ke Rumah Pakde

Curiga ada yang tak beras, ibu itu mengecek kesehatan ke Puskesmas. Dia masih berkeyakinan, gejala yang dirasakannya hanya demam dan batuk biasa. "Ini penyakit biasa saat musim hujan tiba," kilahnya, waktu itu.

Dokter menyarankan ibu ini menjalani tes swab. Ibu itu pun manut. Dua hari kemudian, pihak Puskesmas mengirim hasil uji lab ke rumah ibu itu. Surat diantarkan langsung oleh dokter Puskesmas. Hasilnya, positif Corona. "Ini bagian ujian Tuhan," ujar ibu itu, melalui grup warga.

Puskesmas kemudian menyarankan dia isolasi mandiri di rumah. Tidak harus isolasi di rumah sakit. Hal itu dilakukan karena pasien hanya mengalami gejala ringan. Tanpa butuh bantuan ventilator.

Berita Terkait : Menanti Mandok Hata

Selama isolasi mandiri, ibu itu tidak diperbolehkan keluar rumah. Gerbang rumah harus ditutup rapat. Warga kompleks juga tidak diperbolehkan berkunjung. Ditakutkan akan menjadi media penularan baru.

Di sinilah perhatian warga di perumahan dimulai. Warga gotong royong memberikan bantuan. Ibu-ibu kompleks membuat jadwal pengiriman makanan selama dua pekan. Warga kemudian bergantian mengirim makanan. Biasanya, sebelum mengirim makanan, ibu-ibu menghubunginya terlebih dahulu. Menu apa yang dia suka. Hal ini dilakukan agar makanan yang dikirimkan warga betul-betul dimakan.

Setelah disetujui, makanan dikirim. Tentu saja, seluruh makanan hanya digantungkan di gerbang. Tak sampai tatap muka, apalagi bercakap-cakap. Selanjutnya, pemilik rumah yang mengambilnya.

Berita Terkait : El Diego, Kidalmu Menginspirasiku

Setelah dua minggu menjalani isolasi, kondisi tubuh ibu mulai membaik. Ngilu di persendian dan batuk sudah hilang. Tapi, indera penciuman belum pulih. "Semoga dalam waktu dekat bisa pulih lagi," doa saya memberi semangat kepadanya melalui layanan pesan singkat.  [Ahmad Lathif Rosyidi/Reporter Rakyat Merdeka]