Dark/Light Mode

Butuh Minyak Tanah

Selasa, 30 Maret 2021 06:33 WIB
Ngopi - Butuh Minyak Tanah
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tahun 1990-an hingga awal 2000-an, sangat mudah untuk mendapatkan minyak tanah. Setiap toko di pinggir jalan pasti menjual minyak berbau cukup menyengat itu. Sebab, saat itu, minyak tanah menjadi bahan bakar utama masyarakat untuk memasak.

Saat itu, para ibu rumah tangga, khususnya yang tinggal di pedesaan, hanya punya dua pilihan untuk memasak, pakai kompor dengan bahan minyak tanah atau menggunakan kayu bakar. Warga dengan kelas ekonomi menengah atas tentunya, lebih memilih menggunakan minyak tanah. Karena lebih bersih dan perawatan yang mudah.

Pertengahan 2005, keberadaan minyak tanah mulai digantikan gas elpiji. Hal itu seiring dengan adanya konversi energi yang digagas Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Alasan pemerintah melakukan konversi energi masuk akal. Karena subsidi minyak tanah yang menguras kantong Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Separuh dari harga eceran saat itu, sekitar Rp 1.000 per liter pada 2005.

Berita Terkait : Sibuk Mainin Receh

Perlahan, minyak tanah mulai langka di pasaran. Harganya semakin tinggi. Juga sulit ditemui di toko-toko di pinggir jalan. Masyarakat mulai melupakannya.

Setelah 15 tahun berlalu, saya mulai butuh minyak tanah. Bukan untuk memasak di dapur. Tapi, untuk membakar sampah yang berada di sekeliling rumah. Alasanya sederhana, minyak tanah lebih tahan lama bila disiram ke bara api. Berbeda bila menggunakan bensin, lebih cepat habis. "Api hanya besar di awal, habis itu langsung padam," gerutu saya.

Masalahnya, saat ini sulit mendapat minyak tanah. Tak banyak toko yang jual, karena tidak banyak digunakan lagi. Setelah berkeliling ke beberapa toko, akhirnya ketemu juga. Isinya juga tak banyak, hanya seukuran gentong kecil. Berbeda dengan dulu yang diletakkan dalam tong berukuran besar. Harganya juga lumayan mahal, Rp 12 ribu per liter. Lebih mahal dari harga BBM jenis Pertamax.

Berita Terkait : Macet Lagi, Macet Lagi

"Walaupun mahal, ada saja warga yang nyari," terang Royati, penjual minyak tanah kepada saya.

Royati bilang, pelanggan minyak tanah kebanyakan pemilik Warung Padang. Soalnya, kata dia, memasak rendang dengan kompor yang berisi minyak tanah lebih empuk. "Kalau pakai elpiji, boros dan lama empuknya," cerita pelanggan, kepada dirinya.

Untuk tempat belanja minyak tanah, juga tidak sulit. Wanita paruh baya itu membeli di pangkalan minyak tanah di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel). "Tapi, saya tidak belanja dalam jumlah besar karena memang pembelinya tidak banyak. Harganya juga mahal," kata dia

Berita Terkait : Kesulitan Dapat Darah

Namun demikian, ia akan selalu menyediakan minyak tanah di tokonya, karena selalu ada saja masyarakat yang mencari. "Jadi minyak tanah itu langka, tapi masih dibutuhkan," pungkasnya. [Ahmad Lathif Rasyidi/Wartawan Rakyat Merdeka]