Dewan Pers

Dark/Light Mode

Munas Srikandi Pemuda Pancasila

Sekjen MPR Ingatkan Pentingnya Pembangunan Karakter Bangsa

Senin, 13 Desember 2021 16:51 WIB
Sekjen MPR Maruf Cahyono saat paparan di depan peserta Musyawarah Nasional II Srikandi Pemuda Pancasila di Hotel Bumiwiyata, Depok, Minggu (12/12). (Foto: Ist)
Sekjen MPR Maruf Cahyono saat paparan di depan peserta Musyawarah Nasional II Srikandi Pemuda Pancasila di Hotel Bumiwiyata, Depok, Minggu (12/12). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sekretaris Jenderal MPR Maruf Cahyono menghadiri Musyawarah Nasional II Srikandi Pemuda Pancasila (PP). Srikandi PP merupakan sayap dari PP yang menaungi kaum perempuan. 

Kehadiran Ma’ruf Cahyono di kegiatan yang digelar di Depok, Jawa Barat, Minggu (12/12) menjadi narasumber dalam salah satu sesi seminar. Di hadapan ratusan anggota Srikandi PP yang datang dari segala penjuru tanah air, Ma’ruf Cahyono dalam kesempatan tersebut memaparkan tentang pentingnya paham kebangsaan dan tantangan yang akan dihadapi.  

Dikatakan alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah itu, nasionalisme merupakan suatu paham kebangsaan yang ada pada masyarakat suatu bangsa akibat adanya persamaan sejarah, penderitaan akibat penjajahan.

"Rasa kebangsaan tersebut melahirkan persatuan antar masyarakat suatu bangsa tanpa melihat perbedaan latar belakang seperti agama, suku, ras, golongan, bahasa dan lain-lain yang ingin hidup merdeka dan bebas dari penindasan dan penjajahan," ujarnya.  

Berita Terkait : Maruf Cahyono Minta Srikandi Pemuda Pancasila Punya Daya Saing

Menurut pria asal Banyumas itu, banyak teori yang dikemukakan terkait paham ini. Disebut ada yang diungkapkan oleh Anthony D. Smith, Ernest Renan, dan Hans Kohn. Terkait berbagai terori yang ada, Ma’ruf Cahyono secara tegas mengemukakan teori nasionalisme dari Ir. Soekarno.

Teori tersebut dikemukakan bahwa nasionalisme haruslah nasionalisme yang tidak mencari gebyarnya atau kilaunya negeri keluar saja, tetapi haruslah mencari selamatnya manusia. Nasionalisme kita haruslah lahir dari pada kemanusiaan.

Menurut pria yang saat ini menambah gelar doktor di Program Kajian Stratejik Global Universitas Indonesia bahwa nasionalisme bangsa ini menghadapi berbagai tantangan. Tantangan datang dari kekuatan ideologi lain, ekonomi, politik, sosial budaya, dan pertahanan dan keamanan. "Ancaman ideologi itu berupa komunis, radikal kanan, dan ideologi lainnya," tuturnya.

Sedang dalam bidang politik, ancaman yang datang berupa KKN dalam penyelenggara negara, konflik internal partai politik, belum maksimalnya fungsi pendidikan politik oleh parpol pemimpin nasional, dan potensi kerawanan dalam berbagai pemilu.  

Berita Terkait : Jelang Perayaan Nataru, Kemenag Ingatkan Pentingnya Kerukunan Beragama Dan Mematuhi Prokes

Menurut pria yang menjadi dosen Magister Hukum di Universitas Jenderal Soedirman itu, ada ancaman lain yang tidak kalah mautnya dengan ancaman di atas. Ancaman baru itu adalah Tantangan di Era Industri 4.0, yakni disrupsi.

Diuraikannya, disrupsi adalah perubahan yang fundamental atau mendasar. Inovasi yang menggantikan cara-cara lama dengan cara-cara baru. Teknologi lama serba fisik diganti dengan Teknologi Digital. Evolusi teknologi yang menyasar pada kehidupan manusia. "Digitalisasi, mengubah hampir semua tatanan kehidupan. Fenomena menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata ke dunia maya," tuturnya.  

Untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada, pria yang pernah menjadi  Plt. Sekretaris Jenderal DPD tahun 2017-2018 dalam kesempatan tersebut memberikan resepnya. Resep itu adalah pembangunan karakter. Dikatakan, harus ada reevaluasi terhadap proses terbentuknya nation and character building kita selama ini.

Karena persoalan-persoalan yang kita hadapi saat ini berawal dari ketidaktepatan dalam menghayati dan menerapkan konsep awal kebangsaan yang menjadi fondasi ke-Indonesia-an. Ketidaktepatan ini menurutnya dapat menjerumuskan Indonesia, seperti yang ditakutkan Sukarno, menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa. Bahkan, mungkin yang lebih buruk lagi dari kekhawatiran Sukarno, menjadi bangsa pengemis dan pengemis di antara bangsa-bangsa.  

Berita Terkait : Menteri LHK Tegaskan Pentingnya Penguatan Satuan Polhut Reaksi Cepat

Karakter yang perlu dibangun menurut Ma’ruf Cahyono adalah kemandirian yang menurut Soekarno Berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri. Tak hanya itu, demokrasi atau kedaulatan rakyat sebagai ganti sistem kolonialis juga perlu dibangun.

"Masyarakat demokratis yang ingin dicapai adalah sebagai  pengganti dari masyarakat warisan yang feodalistik," tuturnya.

Lebih lanjut disebutkan ada dua langkah lagi yang perlu diperhatikan, pertama persatuan nasional. Dalam konteks aktual dewasa ini diwujudkan dengan kebutuhan untuk melakukan rekonsiliasi nasional antar berbagai kelompok yang pernah bertikai ataupun terhadap kelompok yang telah mengalami diskriminasi selama ini.

"Kedua, martabat Internasional. Indonesia tidak perlu mengorbankan martabat dan kedaulatannya sebagai bangsa yang merdeka untuk mendapatkan prestise, pengakuan dan wibawa di dunia internasional," pungkasnya. [TIF]