Dewan Pers

Dark/Light Mode

Lantik PAW Anggota MPR

Bamsoet Dorong Indonesia Aktif Mewujudkan Perdamaian Dunia

Rabu, 2 Maret 2022 21:03 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (kiri). (Foto: Dok. MPR)
Ketua MPR Bambang Soesatyo (kiri). (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Bambang Soesatyo mengingatkan, saat ini dunia tengah mengalami perubahan geopolitik, tidak lagi di bawah dominasi tunggal seperti ketika berakhirnya perang dingin. Dunia kini berada pada situasi multipolar. Negara-negara besar yang kuat secara ekonomi dan militer saling bersaing untuk memperebutkan pengaruh ekonomi dan politiknya secara global maupun regional. Bukan hanya di Eropa Timur, tetapi juga terjadi di Timur Tengah. Bahkan di kawasan Laut China Selatan yang sewaktu-waktu dapat melahirkan eskalasi ketegangan.

Dalam seminggu terakhir, misalnya, dunia dikejutkan dengan gejolak di Eropa Timur, yaitu ketika militer Rusia masuk dan menyerang ke wilayah Ukraina. Konflik ini menciptakan ketegangan global yang melibatkan kekuatan ekonomi dan militer terkuat dunia, Rusia di satu pihak dengan Amerika Serikat, Uni Eropa dan NATO di pihak lain. Pada hari pertama konflik terjadi, dampaknya langsung dirasakan seluruh dunia.

"Harga minyak sempat melambung menyentuh angka 100 dolar AS per barel dan pasar keuangan global merespons secara negatif. Jika perang berlangsung lama, diperkirakan harga minyak dunia dapat menembus ke level 150 dolar AS per barel. Dapat mendorong terjadinya hiperinflasi global termasuk di Indonesia, mengingat Indonesia merupakan negara importir minyak," ujar Bamsoet, sapaan akrab Bambang, saat melantik Pengganti Antar-Waktu (PAW) Anggota MPR Moh. Haerul Amri dari Fraksi Partai NasDem dan Hendris Sitompul dari Fraksi Partai Demokrat, di Gedung MPR, Jakarta, Rabu (2/3).

Berita Terkait : KBRI Bern Dorong Diaspora Indonesia Manfaatkan Perjanjian EFTA-CEPA

Ketua DPR ke-20 ini menjelaskan, salah satu tujuan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 adalah 'Ikut Melaksanakan Ketertiban Dunia yang Berdasarkan Kemerdekaan, Perdamaian Abadi, dan Keadilan Sosial', sebagai bagian integral dari kesejahteraan dan keadilan sosial bagi bangsa Indonesia. Karenanya, perang dengan alasan apa pun selalu membawa petaka, kehancuran dan kesengsaraan, harus segera dihentikan.

"Kita sangat berharap konflik militer Rusia dan Ukraina tidak berlangsung lama dan segera menuju jalan damai melalui perundingan yang menghasilkan perdamaian permanen. Indonesia sebagai negara bangsa yang berdaulat tentunya memiliki peran strategis di kancah global, terlebih Indonesia kini memegang Presidensi G20 yang pada puncaknya 20 pemimpin dunia akan bertemu pada KTT G20 di Bali, bulan Oktober nanti," jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menerangkan, konflik dan ketegangan global meski jauh di seberang benua, tetap memberikan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia hingga ke desa-desa. Di antaranya adalah gejolak harga komoditas global, kelangkaan minyak goreng hingga kenaikan harga kedelai. Di luar negeri muncul krisis energi di Inggris akhir tahun lalu yang memicu kenaikan komoditas energi, seperti minyak, gas dan batubara, hingga berdampak pada kenaikan harga-harga komoditas turunannya, seperti CPO.

Berita Terkait : Ini 4 Modal Penting Skuad Persija Hadapi Maung Bandung

"Dunia juga merasa waswas dengan tingginya inflasi di Amerika Serikat dalam empat bulan belakangan ini, hingga menyentuh level 7,5 pada Januari lalu. Dampaknya harga-harga komoditas impor dari Amerika Serikat meningkat, salah satunya kedelai. Kebijakan The Fed dalam mengatasi inflasi tentunya akan memberikan konsekuensi pada pergerakan finansial di seluruh dunia, terutama dengan kenaikan suku bunga," terang Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menekankan, situasi tersebut perlu diantisipasi dan direspons secara tepat dan efektif oleh Pemerintah untuk memastikan rakyat yang baru berusaha bangkit di tengah pandemi Covid-19, tidak terbebani oleh kenaikan harga serta kelangkaan kebutuhan pokoknya. Mengingat ekonomi Indonesia baru saja berhasil kembali tumbuh positif 3,69 persen di 2021, setelah tahun 2020 harus mengalami kontraksi hingga minus 2,07 persen.

"Tahun 2022 ini adalah momentum Indonesia untuk memainkan peran besar dalam menciptakan dunia yang damai, adil dan sejahtera. Kita tentunya ingin kepemimpinan Indonesia di G20 tahun ini, kelak dikenang dunia sebagai awal terwujudnya tatanan dunia yang damai, tumbuh berkelanjutan serta menghapus segala penderitaan rakyat di dunia. Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di Roma, Oktober lalu, telah menyatakan tema Presidensi Indonesia, yaitu 'Recover Together, Recover Stronger'. Sebuah komitmen Indonesia untuk membawa dunia yang lebih inklusif dan segera bangkit bersama-sama di tengah Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung," pungkas Bamsoet. [USU]