Dark/Light Mode

Pengamat: Rapat Terbuka, Publik Jadi Tahu Ada Persoalan Disharmoni Di Internal TNI

Senin, 26 September 2022 19:13 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Komisi I DPR RI menggelar Rapat Kerja (Raker) secara tertutup terkait Rancangan Kerja dan Anggaran (RKA) Kementerian Pertahanan/TNI tahun 2023 pada Senin (26/9).

Raker tersebut merupakan kelanjutan rapat pada Senin (5/9) yang sempat tertunda proses pengesahannya di tingkat Komisi I DPR karena melebarnya pembahasan, termasuk pernyataan kontroversial anggota Komisi I DPR Effendi Simbolan yang menyebut TNI sebagai "gerombolan".

Di rapat yang berakhir heboh karena pernyataan Effendi, keinginan untuk melakukan rapat tertutup diprotes oleh Effendi saat itu, protes itu berakhir dengan keputusan rapat dilakukan secara terbuka.

Namun, dalam rapat Komisi I DPR pada Senin (26/9) justru dilakukan secara tertutup. Raker terkait RKA Kemhan/TNI pada Senin (26/9) yang berlangsung tertutup tersebut dikritisi peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus.

Menurut dia, rapat yang berjalan terbuka, memungkinkan publik mengetahui kondisi internal kementerian/lembaga, dan itu terbukti dari pernyataan Effendi terkait disharmoni di institusi TNI.

Baca juga : Jelang Sidang Gugatan Cerai, Dedi Mulyadi Terus Kuatkan Diri Lewat Instagram

"Dengan rapat terbuka, publik bisa berpartisipasi mengikuti jalannya rapat. Publik jadi tahu ada persoalan disharmoni di internal TNI," kata Lucius di Jakarta, Senin (26/9).

Lucius menilai selalu ada manfaat dibalik desakan rapat terbuka di DPR yaitu agar publik mengetahui apa yang dibicarakan karena masyarakat berhak tahu apa yang terjadi.

Dia mencontohkan, rapat terbuka Komisi I DPR pada Senin (5/9) ternyata diketahui ada disharmoni di TNI, salah satunya yaitu ketidakhadiran Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Dudung Abdurachman. "Urusan TNI, urusan pertahanan dan keamanan juga urusan publik," katanya.

Menurut dia, rapat yang berlangsung terbuka, bisa mengetahui harmonis atau tidak di internal kementerian/lembaga, karena soal hubungan antar-lembaga seperti TNI, juga terkait dengan kinerja lembaga yang seharusnya memang jadi urusan DPR untuk mengawasi.

Lucius menilai kalau bicara urusan harmonis atau tidaknya relasi pejabat di berbagai institusi, maka memang sudah seharusnya jadi tugas DPR.

Baca juga : Pengamat: Tudingan Dugaan Kecurangan Pemilu Di 2024 Jadi Boomerang Bagi Partai Demokrat

"Jadi jangan justru rapat ditutup agar pembicaraan soal relasi antar pejabat yang mempengaruhi kinerja justru ditutup. Komisi I mau main rahasia-rahasiaan untuk kepentingan siapa?," tuturnya. 

Lucius menilai, kebiasaan Komisi I DPR menawarkan opsi tertutup dan terbuka sebelum rapat, memberikan kesan Komisi I tidak punya komitmen sebagai wakil rakyat yang harusnya punya kepentingan membuka ruang partisipasi bagi rakyat dalam proses pembahasan apapun dengan mitra kerja seperti Kemhan dan TNI.

Karena itu menurut dia, seharusnya Komisi I DPR melakukan semua rapat secara terbuka dan jika dalam proses pembahasan menyangkut isu rahasia negara, baru rapat ditutup sejenak sampai pembicaraan itu berakhir.

"Ketika pembahasan rahasia sudah selesai, langsung dibuka kembali. Sesungguhnya bukan jalannya lagi rapat-rapat di DPR termasuk rapat anggaran dilakukan secara tertutup. Apa sih yang sebegitu rahasianya dari persoalan anggaran Kemhan dan TNI sampai harus ditutup terus?," bebernya. 

Menurut dia, jangan jadikan alasan urusan strategis pertahanan sebagai alasan untuk menutup akses publik terhadap program Kemhan.

Baca juga : Pengamat: Publik Merespon Positif Pertemuan Airlangga Dan Prabowo

Dia mengatakan memang ada yang hal rahasia dalam pertahanan namun dalam pembicaraan anggaran, tidak sampai yang rahasia-rahasia itu karena pembicaraan anggaran di Komisi I DPR hanya terkait kebijakan umumnya saja.

"Komisi I harus punya tanggungjawab untuk memastikan supremasi sipil di hadapan TNI dengan mendorong semangat pemerintahan sipil di hadapan TNI dan Kemhan," tuturnya. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.