Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Dunia Dilanda Peperangan
Indonesia Harus Mandiri Pangan, Obat Dan Senjata
Sabtu, 17 Mei 2025 07:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Senayan mendorong Pemerintah meningkatkan kemandirian bangsa dalam menghadapi situasi dunia yang makin kacau. Konflik di Palestina, perang Rusia vs Ukraina dan India vs Pakistan, mengharuskan kita mempersenjatai diri dengan peralatan tempur yang canggih.
Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR Syahrul Aidi Mazaat mengatakan, perang antara Pakistan dengan India membuat ada perubahan konstelasi politik di Timur Tengah dan Asia. Karena, perang ini juga dipengaruhi dukungan dua negara adi daya saat ini, yakni China dan Amerika Serikat.
“Pakistan didukung oleh China dan Rusia, sementara India didukung Amerika Serikat. Pakistan sementara ini unggul berkat dukungan teknologi perang dari China,” kata Syahrul dalam diskusi bertajuk 'Mitigasi Geopolitik Indonesia Menghadapi Dampak Perang India-Pakistan' di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (16/5/2025).
Baca juga : Kepala Daerah Di Sumut Ramai-ramai Gabung Gerindra
Dia bilang, efek perang dua negara tetangga ini akan terbangun opini bahwa kekuatan teknologi tempur dan alat perang negara pendukung akan sangat menentukan. Dengan begitu, Indonesia harus juga menentukan arah kebijakannya.
“Tentu kalau kita melihat ke sana, ya tidak jauh-jauh dari dukungan yang ada sekarang di Palestina dan Ukraina misalnya. Memang di satu sisi Blok China ini semakin kuat, sementara Blok Amerika Serikat semakin melemah, selain mulai hilangnya kepercayaan dunia ke Amerika,” ungkapnya.
Indonesia, ungkap Syahrul, memang menganut politik bebas aktif sehingga tidak bisa menentukan sikap secara terang-terangan. Namun melihat perkembangan belakangan ini, Indonesia harus pandai memainkan peran.
Baca juga : Dituding Aktor Intelektual Kasus Masiku, Hasto Kaget
Di satu sisi tidak boleh terlalu dekat dengan Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tawar, di sisi lain tetap harus menjaga hubungan baik dengan China.
“Arab Saudi, misalnya, punya hubungan dengan Amerikanya kuat, tetapi di hubungan dengan China juga kuat, sehingga daya tawarnya akan naik. Kalau kita punya hanya satu senjata, daya tawar kita akan lemah,” ujarnya.
Menurutnya, China bisa menjadi negara besar karena memiliki peralatan tempur yang kuat dan memiliki komoditi pangan yang dibutuhkan oleh negara-negara lain. Ini yang mesti ditiru dengan menjadi negara yang berdaulat pangan.
Baca juga : Dukungan Himbara Cegah Warga Desa Kena Rentenir
“Kalau kita mampu memproduksi yang kita konsumsi, kita akan mandiri. Kalau kita mampu memproduksi yang dikonsumsi orang, maka kita akan maju. Kita akan bisa menguasai orang lain. Tapi ketika kita tidak mampu memproduksi yang kita konsumsi sendiri, maka kita akan bisa dijajah,” jelasnya.
Karena itu, untuk menjadi negara maju dan berpengaruh, Indonesia harus mampu memproduksi pangan sampai senjata.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya