Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
El Nino Godzilla Mulai Terasa
Komisi IV DPR Khawatir Kemarau Ancam Hasil Panen Petani
Selasa, 12 Mei 2026 20:36 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Komisi IV DPR meminta Pemerintah segera mengantisipasi dampak fenomena El Nino Godzilla yang mulai terasa di kawasan Indonesia Timur. Fenomena ini ditandai dengan intensitas hujan menurun drastis di kawasan Nusa Tenggara dan Bali dalam satu bulan terakhir.
Anggota Komisi IV DPR Usman Husin mengatakan, fenomena El Nino ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Penggunaan istilah El Nino Godzilla juga menggambarkan besarnya dampak yang dapat ditimbulkan.
"Kami meminta Pemerintah mencegah meluasnya dampak fenomena El Nino ini, utamanya dalam ketersediaan pangan dan air bersih,” ujar Usman, dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).
El Nino Godzilla adalah fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat yang diprediksi memengaruhi Indonesia dari April hingga Oktober 2026. Fenomena ini ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut ekstrem di Samudra Pasifik, menyebabkan kemarau lebih panas, kering, dan panjang.
Usman mengatakan, di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT), dampak El Nino mulai dirasakan masyarakat. Suhu udara meningkat dan cuaca terasa lebih panas dibandingkan biasanya.
Baca juga : Tim Garuda Baru Terbang ke Meksiko, Bawa Mimpi Besar Anak Indonesia
"Udara di siang hari terasa jauh lebih panas dibandingkan sebelumnya. Intensitas hujan juga semakin kecil,” ujar politisi PKB ini.
Kondisi tersebut, kata Usman, harus segera diantisipasi karena ancaman terbesar El Nino adalah terganggunya sektor pertanian akibat kekeringan dan berkurangnya pasokan air irigasi. Jika tidak ditangani sejak dini, produktivitas pertanian dapat menurun dan berdampak pada ketahanan pangan nasional.
Dia mengingatkan, pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air. Jika musim kering berlangsung lebih lama akibat El Nino, sawah-sawah berpotensi mengalami kekeringan. "Ini tentu mengancam hasil panen petani dan bisa berdampak pada pasokan pangan masyarakat,” tegas legislator asal daerah pemilihan NTT ini.
Karena itu, ia meminta Pemerintah bergerak cepat dengan memperkuat infrastruktur air di daerah-daerah rawan kekeringan. Langkah yang dapat dilakukan dengan membuat sumur bor di daerah pertanian, pembangunan jaringan pipa air dan penambahan pompa air untuk membantu distribusi air ke lahan pertanian. "Sehingga para petani tetap bisa bertani di tengah ancaman kekeringan,” harap dia.
Selain itu, ia meminta Pemerintah Daerah (Pemda) bersama kementerian terkait menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang. Seperti memastikan cadangan air tetap tersedia dan melakukan pendampingan kepada petani agar mampu beradaptasi terhadap perubahan cuaca ekstrem. “Jangan sampai kita terlambat mengantisipasi," kata dia mengingatkan.
Baca juga : Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kawal Pemerataan Akses Pendidikan
Anggota Komisi IV DPR Sadarestuwati menambahkan, gagal panen di tengah ancaman musim kemarau ekstrem harus diantisipasi. Caranya melalui kesiapan petani dan Pemerintah menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
“Swasembada beras tahun 2025 dengan produksi 34,6 juta ton beras atau sekitar 70 juta ton gabah kering panen menjadi modal penting untuk menjaga ketahanan pangan ke depan,” ucap Sadarestuwati dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).
Sadarestuwati mengingatkan, kemarau tahun ini diperkirakan lebih berat dibandingkan tahun 2023. Karena itu, seluruh pihak aktif memantau kondisi irigasi, ketersediaan sumber air, embung, hingga memastikan kecukupan pasokan air di titik-titik pertanian yang rawan terdampak kekeringan.
Dukungan irigasi konvensional seperti pompanisasi dan sumur dalam harus dipastikan siap beroperasi sebagai langkah antisipasi dini. "Harapannya agar produksi pertanian tidak mengalami penurunan," ujar politisi PDIP ini.
Untuk itu, Estu sapaan akrabnya mendorong penerapan sistem irigasi modern, termasuk pengairan berselang. Tanaman padi tidak harus selalu tergenang air secara permanen karena kebutuhan air hanya berada pada fase-fase tertentu, seperti awal tanam, pembentukan anakan, pengisian bulir, hingga masa pematangan bulir.
Baca juga : Industri Tekstil Nasional Hadapi Tekanan Berlapis
"Kami meminta petani mempercepat masa tanam sebelum puncak kemarau tiba, sekaligus memanfaatkan benih unggul yang adaptif dan bermutu agar produktivitas tetap terjaga," dorong dia.
Selain itu, Estu mendorong generasi muda mulai memanfaatkan konsep smart farming dalam aktivitas pertanian modern. Teknologi pertanian berbasis digital memungkinkan proses penyiraman, pemupukan, hingga pemantauan tanaman dilakukan melalui telepon genggam. "Sehingga pertanian menjadi lebih efisien dan menarik bagi kalangan muda," tutup Estu.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya