Dark/Light Mode

Misbakhun: KEM-PPKF 2027 Cerminkan Optimisme dan Kehati-hatian Fiskal

Kamis, 21 Mei 2026 11:24 WIB
Foto: Fraksi Golkar DPR.
Foto: Fraksi Golkar DPR.

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengapresiasi penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun 2027 oleh Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI, Rabu (20/5/2026).

Menurut Misbakhun, arah kebijakan tersebut menunjukkan optimisme pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

“Pemerintah menunjukkan optimisme yang cukup terukur. Target pertumbuhan tetap dijaga, tetapi asumsi makro yang digunakan juga mencerminkan kehati-hatian dalam membaca dinamika global,” kata Misbakhun dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Baca juga : Guru Besar Trisakti: MBG Perkuat SDM Dan Ketahanan Nasional

Ia menilai, target pertumbuhan ekonomi 2027 pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat investasi, konsumsi domestik, dan sektor produktif nasional.

Sementara itu, asumsi inflasi pada rentang 1,5 hingga 3,5 persen dinilai mencerminkan upaya menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas harga.

Misbakhun juga memandang asumsi nilai tukar rupiah pada kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS serta suku bunga SBN 10 tahun di level 6,5 hingga 7,3 persen sebagai bentuk antisipasi pemerintah terhadap volatilitas pasar keuangan internasional.

Baca juga : Misbakhun Optimistis Stabilitas Rupiah Segera Membaik

Pertumbuhan Harus Berdampak ke Rakyat Meski demikian, Misbakhun menilai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi harus dibarengi penguatan sektor riil agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan daya beli.

Karena itu, ia menegaskan APBN 2027 harus diarahkan untuk memperkuat produktivitas nasional melalui belanja negara yang efektif, hilirisasi industri, dan dukungan terhadap sektor usaha domestik.

“Pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya kuat di angka makro, tetapi juga harus mampu menggerakkan ekonomi rakyat dan memperkuat sektor usaha nasional,” tuturnya.

Baca juga : Gubernur Fakhiri: Otoda Harus Perkuat Layanan Publik Dan Kemandirian Fiskal

APBN Harus Siap Hadapi Risiko Global Di sisi lain, Misbakhun mengingatkan target pertumbuhan ekonomi harus tetap ditopang ruang fiskal yang sehat di tengah tekanan global, terutama terkait harga energi dan volatilitas nilai tukar rupiah.

Menurut dia, asumsi harga minyak mentah Indonesia pada kisaran USD 70 hingga USD 95 per barel menunjukkan pemerintah perlu menyiapkan APBN yang cukup fleksibel dalam menghadapi gejolak geopolitik dan pasar energi dunia.

“Kalau harga minyak naik saat rupiah tertekan, dampaknya bisa langsung terasa terhadap subsidi energi, biaya impor, dan inflasi domestik. Jadi disiplin fiskal harus benar-benar dijaga dengan kebijakan yang prudent dan eksekusi yang konsisten,” tuturnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.