Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Azis Subekti: 2027 Titik Balik Indonesia Jadi Negara Produktif
Rabu, 10 Juni 2026 10:24 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti menilai, tahun 2027 harus menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mengubah orientasi pembangunan nasional.
Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya menjadi negara yang kuat secara fiskal, tetapi harus bergerak menjadi negara yang produktif.
Azis mengatakan, selama lebih dari dua dekade terakhir Indonesia telah berhasil menjaga stabilitas ekonomi, memperluas pembangunan infrastruktur, memperkuat perlindungan sosial, serta menghadirkan negara hingga ke tingkat desa.
"Capaian itu penting dan harus dihargai. Namun pertanyaan berikutnya adalah, apakah seluruh sumber daya fiskal yang kita miliki sudah benar-benar melahirkan produktivitas, nilai tambah, lapangan kerja berkualitas, dan daya saing nasional?" ujar Azis dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).
Menurut Azis, tantangan utama Indonesia ke depan bukan lagi semata-mata menjaga stabilitas, melainkan meningkatkan produktivitas nasional. Ia menegaskan, keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari besarnya anggaran yang dibelanjakan atau tingginya serapan anggaran.
Baca juga : Kaesang Nobar Timnas Indonesia Vs Oman dengan Gubernur Sumsel
"Yang harus kita ukur bukan hanya berapa besar APBN dan APBD dibelanjakan, tetapi kemampuan ekonomi apa yang lahir dari belanja itu. Apakah masyarakat semakin produktif, apakah daerah semakin mandiri, apakah nilai tambah ekonomi meningkat, dan apakah daya saing bangsa semakin kuat," katanya.
Azis menyebut Indonesia selama ini telah berhasil membangun fondasi sebagai negara fiskal. Negara mampu menghimpun penerimaan, menjaga stabilitas keuangan publik, mendistribusikan sumber daya, serta memperluas layanan publik.
Namun, ia mengingatkan bahwa negara fiskal belum otomatis menjadi negara produktif. Negara fiskal diukur dari kemampuannya mengumpulkan dan membelanjakan sumber daya. Negara produktif diukur dari kemampuannya mengubah sumber daya itu menjadi kemampuan ekonomi yang terus berkembang.
Azis menilai perbedaan antara belanja dan investasi harus menjadi kesadaran baru dalam penyusunan APBN dan APBD. Menurutnya, belanja akan berhenti ketika uang selesai digunakan, sementara investasi pembangunan akan terus memberi manfaat dalam jangka panjang.
"Jalan yang baik akan melayani ekonomi puluhan tahun. Sekolah yang baik akan melahirkan generasi produktif puluhan tahun. Pelabuhan yang baik akan menggerakkan perdagangan puluhan tahun. Karena itu, orientasi pembangunan harus bergeser dari sekadar membiayai kegiatan menjadi membangun kemampuan," ujarnya.
Baca juga : Piala Dunia 2026, Dikuasai Pemain Prancis
Dia menyoroti sejumlah hambatan struktural yang masih membatasi produktivitas nasional. Salah satunya adalah budaya pembangunan yang masih terlalu berorientasi pada aktivitas administratif dibandingkan hasil nyata.
Azis mengatakan, ukuran keberhasilan birokrasi selama ini kerap berhenti pada serapan anggaran, jumlah program, proyek yang selesai, atau laporan administratif. Padahal, masyarakat tidak hidup dari laporan kegiatan, melainkan dari manfaat nyata pembangunan.
"Jalan baru bernilai kalau menghubungkan sentra produksi dengan pasar. Pelatihan bermakna kalau menghasilkan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja. Bantuan pemerintah berdampak kalau mampu membuat penerima manfaat menjadi lebih mandiri," katanya.
Hambatan berikutnya, menurut Azis, adalah desentralisasi yang belum sepenuhnya melahirkan kemandirian ekonomi daerah. Ia menyebut transfer ke daerah sudah berlangsung lebih dari dua dekade, tetapi banyak daerah masih sangat bergantung pada anggaran dari pusat.
"Tujuan akhir pemerintahan daerah bukan laporan yang sempurna. Tujuan akhirnya adalah ekonomi daerah yang tumbuh, lapangan kerja yang tercipta, pendapatan masyarakat yang meningkat, dan basis penerimaan daerah yang semakin kuat," tegasnya.
Baca juga : Azis Subekti Minta Pemerintah Jaga Harga Kebutuhan Pokok
Karena itu, Azis menilai kepala daerah ke depan harus mampu menjawab pertanyaan mendasar: ekonomi seperti apa yang sedang dibangun untuk masa depan wilayahnya. Ia juga menekankan pentingnya peran Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian PANRB dalam mengubah arah birokrasi nasional.
Menurutnya, apa yang diukur oleh kedua kementerian tersebut akan sangat menentukan perilaku birokrasi di pusat maupun daerah.
"Jika yang diukur hanya kelengkapan laporan, birokrasi akan menjadi ahli laporan. Tetapi jika yang diukur adalah produktivitas daerah, penciptaan lapangan kerja, investasi, kualitas layanan publik, dan kemandirian fiskal, maka energi birokrasi akan bergerak ke arah yang lebih produktif," ujar Azis.
Selain itu, Azis menyoroti struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada siklus komoditas. Ia menilai kekayaan sumber daya alam seperti batu bara, nikel, sawit, tembaga, bauksit, panas bumi, dan komoditas strategis lainnya harus diubah menjadi nilai tambah yang lebih besar.
"Hilirisasi bukan sekadar agenda industri. Hilirisasi adalah proses mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan ekonomi. Industrialisasi bukan sekadar membangun pabrik, tetapi menciptakan pekerjaan produktif, inovasi, dan daya saing," katanya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya