Dark/Light Mode

Di Hadapan Mahasiswa Baru IPB

Bamsoet Ingatkan Generasi Muda Harus Selalu Berpedoman pada Pancasila

Selasa, 25 Agustus 2020 15:29 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. MPR)
Ketua MPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Bambang Soesatyo menegaskan, perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas tahun 2045 tidak hanya diwarnai semangat dan optimisme semata, melainkan juga realitas tantangan kebangsaan yang muncul dengan berbagai dimensinya. Karenanya, kejayaan menuju Indonesia Emas tahun 2045 harus dipersiapkan dari sekarang. Kunci utamanya melalui peningkatan pendidikan yang berkualitas.

"Pendidikan harus dipahami sebagai proses berkesinambungan dalam melahirkan manusia Indonesia yang memiliki ilmu pengetahuan, kecakapan, keterampilan, dan yang paling utama memiliki karakter dan jiwa Pancasila. Dengan pendidikan Pancasila kita dapat memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara, menanamkan rasa dan laku cinta Tanah Air, memperluas wawasan kebangsaan, serta meneguhkan integrasi bangsa seperti gotong royong, kerukunan umat beragama, suku, golongan dan lainnya dalam bingkai NKRI," ujar Bamsoet, sapaan akran Bambang, dalam Webinar Pelatihan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang diselenggarakan Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB), secara virtual dari Ruang Kerja Ketua MPR, Jakarta, Selasa (25/8).

Baca juga : Bamsoet Ingatkan Peran Penting Mahasiswa dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Mantan Ketua DPR ini mengingatkan, tantangan dunia ke depan yang dihadapi generasi muda akan jauh berbeda dengan dunia yang mereka hadapi saat ini. Persaingan global bukan hanya ketat, melainkan juga semakin keras. Bappenas memperkirakan, di 2045 nanti, penduduk dunia akan melonjak dari saat ini yang berjumlah sekitar 7,594 miliar menjadi 9,45 miliar. Penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 318 juta jiwa, menjadi negara ke-5 dengan jumlah penduduk terpadat dunia setelah India (1,674 miliar), China (1,375 miliar), Amerika Serikat (381 juta) dan Nigeria (362 juta).

"Puncak bonus demografi Indonesia berada di rentang waktu 2030-2040, dengan jumlah penduduk usia produktif berusia 15-64 tahun mencapai sekitar 190 juta. Para siswa yang kini sedang menempuh pendidikan di SD, SMP, SMA/sederajat, maupun mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, adalah bagian dari bonus demografi tersebut. Jika kalian tak sungguh-sungguh belajar, bukan hanya diri dan keluarga yang dirugikan, melainkan juga bangsa dan negara," tegas Bamsoet.

Baca juga : Bertemu KAMMI, Bamsoet Ajak Generasi Muda Wujudkan Visi Indonesia Emas 2045

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga menyoroti masih rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Antara lain ditandai merosotnya ranking PISA (Programmer for International Student Assessment) Indonesia dari urutan ke-65 (2015) menjadi ke-72 (2018) diantara 77 negara. Menunjukan menurunnya kemampuan membaca, matematika, dan sains anak-anak Indonesia menurun.

"Laporan Bank Dunia dalam The Promise of Education in Indonesia 2019 memperlihatkan bahwa pendidikan Indonesia menghadapi masalah yang cukup serius. Sepertiga dari seluruh anak-anak di Indonesia di usia 10 tahun mengalami learning poverty, yaitu kondisi ketidakmampuan anak untuk membaca dan memahami cerita sederhana. Learning poverty berkaitan dengan pendapatan sebuah negara, semakin besar pendapatan sebuah negara, maka tingkat learning poverty semakin kecil," papar Bamsoet.

Baca juga : Bamsoet: Indonesia Harus Tetap Semangat dan Utamakan Kepentingan Bangsa

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan, untuk membantu peningkatan kualitas SDM selain dari jalur pendidikan, MPR juga konsisten melaksanakan pembangunan karakter bangsa melalui pemasyarakatan Empat Pilar MPR yang pada hakikatnya adalah pembangunan karakter dan jati diri bangsa Indonesia. Empat Pilar MPR itu adalah Pancasila sebagai dasar negara, landasan ideologi, falsafah, etika moral serta alat pemersatu bangsa, Undang Undang Dasar Negara Republik tahun 1945 sebagai landasan konstitusional, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai konsensus yang harus dijunjung tinggi serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat pemersatu dalam kemajemukan bangsa.

"Intelektualitas bukan hanya sebatas pada bidang akademis, namun juga termasuk dalam moral dan etika. Kita harus memiliki keduanya untuk bisa membawa bangsa kita menuju kemajuan yang berperadaban. Karenanya, generasi muda harus senantiasa berpedoman pada Pancasila sebagai falsafah bangsa dan pemersatu bangsa dan negara. Karena sejatinya Pancasila adalah intisari dari implementasi nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa," pungkas Bamsoet. [USU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.