Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sosialisasi Empat Pilar MPR Vaksinasi Ideologi Pancasila Di Masyarakat

Rabu, 18 Agustus 2021 14:54 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. MPR)
Ketua MPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - MPR yang mengemban visi sebagai rumah kebangsaan, pengawal ideologi Pancasila dan kedaulatan rakyat, mendapat mandat untuk menginternalisasikan empat konsepsi kenegaraan, yang kemudian dikenal dengan sebutan Empat Pilar MPR. Empat Pilar MPR ini terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. 

Demikian dijelaskan Ketua MPR Bambang Soesatyo dalam peringatan Hari Konstitusi dan Hari Lahir MPR, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (18/8). Bamsoet, sapaan akrab Bambang, menegaskan, MPR akan terus melakukan vaksinasi ideologi Pancasila melalui internalisasi Empat Pilar MPR kepada seluruh lapisan masyarakat. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat agar tidak mudah terinfeksi nilai-nilai yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

"Keberhasilan menjadi individu yang ber-Pancasila tidak sekadar diukur dari hapalnya masing-masing atas isi kelima sila Pancasila. Melainkan terwujud dalam perilaku keseharian,” ucapnya.

Berita Terkait : KFC Indonesia Percepat Vaksinasi Seluruh Karyawan Gerai

Bamsoet menambahkan, ketika setiap individu bisa mengalokasikan waktu untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, untuk selalu bersikap memanusiakan manusia lainnya dengan adil dan beradab, untuk selalu berusaha menyatukan saudara sebangsa-setanah air yang berbeda, untuk selalu mengedepankan sikap permusyawaratan dalam menyelesaikan perbedaan, dan untuk terus menerus mengikhtiarkan tegaknya keadilan sosial, saat itu dia sedang mewujudkan Pancasila dalam kehidupan nyata.

Mantan Ketua Komisi III DPR dan Ketua DPR ke-20 ini lalu menyampaikan beberapa kisah kehidupan para pendiri bangsa yang kental dengan nilai-nilai Pancasila, sehingga patut diteladani. Seluruh elemen bangsa bisa belajar kesahajaan dan kesederhanaan H Agus Salim, seorang diplomat ulung yang tidak malu mengenakan jas lusuh dan bertambal, seorang menteri, dan pendiri bangsa yang sering kekurangan uang belanja. Dalam kehidupan kesehariannya, H Agus Salim selalu berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. 

"Salah satu kontrakannya adalah sebuah rumah mungil dengan satu ruangan yang berada di gang sempit dan padat penduduk di bilangan Jatinegara. Begitu pintu dibuka, akan ada koper-koper terkumpul di sudut rumah, dan kasur-kasur digulung di sudut lainnya. Di situlah H Agus Salim menerima tamu, makan, dan tidur bersama istri dan anak-anaknya. Kontrakan yang paling dikenangnya adalah di Gang Listrik, yang justru harus hidup tanpa listrik gara-gara ia tidak mampu membayar tagihan listrik," cerita Bamsoet.

Berita Terkait : Ini Daftar Faskes/RS Yang Layani Vaksinasi Moderna Di Jakarta

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menjelaskan, ketika salah satu anaknya meninggal dunia, H Agus Salim tidak punya uang untuk membeli kain kafan. Jenazah anaknya dibungkus dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru. “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru. Untuk yang mati cukuplah kain itu,” ucap Bamsoet, menirukan pernyataan H Agus Salim, ketika itu.

Bamsoet menerangkan, H Agus Salim telah mewakafkan dirinya untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, bahwa memimpin itu adalah ibadah.

"Jika ingin meneladani persahabatan, Bung Karno dan Bung Hatta dapat dijadikan contoh. Meski sudah tidak bisa bersama lagi, keduanya tetap hangat dan akrab. Padahal, mereka berbeda pandangan yang tidak ada titik temunya tentang demokrasi. Pak Kasimo (Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono) dan Pak Natsir (Mohammad Natsir) pun demikian, keduanya bisa berboncengan naik sepeda setelah debat sengit di parlemen," pungkas Bamsoet. [USU]