Dewan Pers

Dark/Light Mode

Guru Honorer Banyak Yang Belum Diangkat

Yakinlah, Mas Menteri Bukan Dalam Rangka Ingin Menyiksa

Rabu, 3 Nopember 2021 07:15 WIB
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim. (Foto: Rizki Syahputra/RM)
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim. (Foto: Rizki Syahputra/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Banyak guru honorer belum diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Senayan yakin, kebijakan pengangkatan guru honorer jadi ASN bukan dalam rangka menyiksa para guru.

Anggota Komisi X DPR My Esti Wijayanti mengatakan, DPR sudah berusaha keras memastikan setiap kebijakan yang diambil sedapat mungkin berimbas kepada kesejahteraan guru dan tenaga pendidik di negeri ini.

Berita Terkait : Wakil Ketua Komisi VI Puji Kerja Airlangga

Karena itu, My Esti merasa sedih jika ada ungkapan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim telah menyiksa guru.

“Tadi ada kalimat, jangan siksa kami. Saya meyakini sepenuhnya Mas Menteri (Nadiem Makarim) tidak dalam rangka ingin menyiksa. Bahkan Mas Menteri ini hadir di banyak tempat untuk bisa tahu lebih dalam, termasuk tidur di rumah guru-guru,” tegas My Esti dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan perwakilan asosiasi guru honorer di Jakarta, kemarin.

Berita Terkait : DPR Minta Pemerintah Sikat Perusahaan Langgar HGU

Terkait program pengangkatan 1 juta guru honorer, tegas My Esti, masih banyak yang harus didiskusikan dengan pemerintah. Mulai dari kebutuhan anggaran hingga formasi. Apalagi, banyak pemerintah kabupaten, kota hingga provinsi khawatir program pengangkatan guru honorer ini membebani APBD mereka.

Dalam RDPU, Ketua Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Non Kategori (GTKHNK 35+) Syaiful Huda Lina Kurniati memohon agar dia dan rekan-rekannya bisa diangkat menjadi ASN tanpa tes. Ini sepadan dengan perjuangan mereka dalam menghasilkan manusia unggul di negeri ini.

Berita Terkait : Senayan Optimis Pariwisata Bali Bangkit

“Kami itu jantungnya negeri. Saya yakin semua pemangku kebijakan mendengar kalau kami ini objek tertindas,” kata Lina, emosi.
 Selanjutnya