Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kerja Kurang Layak Penyebab Petahana Tumbang Di Pileg

Minggu, 16 Juni 2019 15:33 WIB
Surat suara Pemilu 2019 (Foto: Istimewa)
Surat suara Pemilu 2019 (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Banyaknya caleg petahana atau incumbent tumbang di Pemilu 2019 dinilai sebagai akibat kerja buruk. Masyarakat saat ini lebih rasional dan sudah melek politik sehingga ogah pilih caleg kurang layak.

”Saat ini banyak pendatang baru terpilih jadi anggota dewan. Sedangkan banyak petahana tumbang, mungkin salah satu faktor tumbangnya petahana karena masyarakat sudah tahu keburukan petahana,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner, Emrus Sihombing kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Petahana tumbang, lanjut Emrus adalah bentuk hukuman masyarakat kepada petahana yang dianggap kurang baik dalam jadi wakil rakyat. “Pemilu adalah waktu bagi masyarakat menentukan apakah anggota dewan petahana lanjut atau gagal, itu adalah hal wajar,” ujarnya.

Berita Terkait : Tembus 5.000 Kasus, Penyakit Pencernaan yang Diderita Pemudik di Jabar

Pengamat Komunikasi dari Universitas Pelita Harapan (UPH) ini, menilai, masyarakat lebih rasional dalam memilih dan melihat kinerja anggota legislatif.

“Di era digital saat ini masyarakat mudah memonitor kinerja anggota dewan, apalagi belakangan banyak politikus mengecewakan dan hanya menebar janji politik, nyatanya tak ditepati. Masyarakat pasti melihat, anggota legislatif itu dalam lima tahun ngapain saja. Mereka ingin tahu, sehingga jadi pertimbangan saat memilih,” paparnya.

Gagalnya petahana, lanjutnya, terjadi hampir di seluruh Indonesia. Termasuk di DPRD pun banyak petahana gagal. Banyaknya wajah baru terpilih, kata Emrus, karena memiliki komunikasi politik inovatif dan lebih mengena pada pemilih. Termasuk mudah memasuki ruang milenial yang belum ada cela negatifnya.

Berita Terkait : Pertamina Berikan Bingkisan Pada Petugas SPBU yang Dinas di Tol Trans Jawa

”Strategi (caleg) mereka mungkin lebih nyambung dan inovatif kepada pemilih millenial dari pada petahana. Mereka lebih gaul mendekati pemilih, sehingga wajah baru justru dapat tempat di hati masyarakat. Paling tidak ada penyegaran untuk mewakili masyarakat,” jelasnya.

Bagi caleg petahana terpilih, tentu disebabkan banyaknya sorotan langkah anggota itu dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang dianggap memuaskan.

”Petahana yang berhasil terpilih, tentunya mereka berhasil mempertahankan konstituennya dan bisa membuktikan kinerja mereka. faktor keberuntungan juga,” tuturnya.

Berita Terkait : Tak Ada Keberangkatan Penumpang di Priok pada H-1 Lebaran

Karenanya, kata Emrus jika caleg baru ingin terpilih kembali pada Pemilu 2024, mereka harus berkaca dan mengambil pelajaran dari petahana yang gugur.

“Caleg pendatang baru terpilih harus bisa membuktikan dan berkerja progresif. Apabila hal itu tidak dilakukan, pemilu mendatang bisa saja tergusur dan tidak terpilih kembali. Pokoknya caleg baru harus membuktikan janji dan tugas politik. Jangan sia-siakan apalagi politik jadi perhatian. Jejak digital positif pun harus dilakukan untuk membuktikan hal itu,” pungkasnya. [EDY]