Dewan Pers

Dark/Light Mode

Poros Prabowo-Puan: Gerindra Dan PDIP King Maker Pilpres 2024

Senin, 25 Juli 2022 22:38 WIB
Ketua Presidium Nasional Poros Prabowo-Puan Andianto. (Foto: Ist)
Ketua Presidium Nasional Poros Prabowo-Puan Andianto. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Koalisi antara Partai Gerindra dengan PDIP dinilai akan menjadi koalisi yang fenomenal dan berpotensi besar untuk memenangkan Pemilihan Umum serta Pemilihan Presiden 2024 mendatang.

Ketua Presidium Nasional Poros Prabowo-Puan Andianto mengatakan, posisi kedua partai tersebut saat ini menempati dua besar dari beberapa hasil survei yang telah dikeluarkan.

Berita Terkait : Ribuan Santri Dan Ulama Karawang Dukung Ganjar Presiden 2024

"PDIP adalah parpol besar pemenang pemilu 2014 dan 2019, di mana posisi ke dua ditempati Gerindra. Hasil survei juga menunjukkan meskipun Jokowi tidak lagi menjadi Capres karena alasan konstitusional elektabilitas PDIP tetap moncer diurutan pertama," kata Andrianto, Senin (23/7).

Andrianto juga berpendapat, dengan pencalonan Puan dalam bursa pencapresan berduet dengan Prabowo Subianto, akan tetap memiliki daya tarik yang sangat tinggi bagi para pendukungnya.

Berita Terkait : Jangan Samakan Dong Pilpres 2009 Dan 2024

"Siapapun yang akan dicalonkan PDIP pasti akan didukung tidak ada masalah jelasnya. Jadi tidak masalah bila Puan yang dicalonkan apalagi elelektabilitasnya terus naik belakangan ini," tuturnya. 

Para pendukung PDIP pun, lanjut Andrianto, masih menginginkan sosok keturunan Soekarno untuk bisa memimpin bangsa ini. Sehingga, sosok Puan diyakini akan diterima masyarakat ketika dia maju dalam bursa Pilpres.

Berita Terkait : Masyarakat Serang Dukung Sandiaga Uno Maju Ke Pilpres 2024

Sementara itu, dengan pencalonan bersama Prabowo Subianto, elektabilitas pasangan tersebut juga dianggap sangat mumpuni untuk memenangkan Pilpres 2024.

"Lihat saja Prabowo belum kampanye atau gembar gembor saja elektabilitasnya sudah naik. Itu apresiasi publik terhadap kinerja dan sikap pemersatu yang dia tunjukan untuk menyudahi pertengkaran politik yang merembet ke sosial yang akarnya berasal dari 2014," jelasnya.
 Selanjutnya