Dewan Pers

Dark/Light Mode

Setelah Mega-SBY Semeja

PDIP Dan Demokrat Bisakah Mulai Akrab?

Sabtu, 19 November 2022 07:47 WIB
Momen Megawati dan SBY semeja saat jamuan makan malam pimpinan negara G20, di Bali, Selasa (15/11). (Foto: Istimewa)
Momen Megawati dan SBY semeja saat jamuan makan malam pimpinan negara G20, di Bali, Selasa (15/11). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Momen Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) semeja saat jamuan makan malam pimpinan negara G20, di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali, Selasa (15/11) lalu, menumbuhkan harapan kedua tokoh nasional ini bakal akur. Jika hal itu benar terjadi, bisakah PDIP dan Demokrat, yang selama ini sering berantem, mulai akrab?

Dalam jamuan makan malam itu, Mega dan SBY tampak akrab. Ketua DPP PDIP Puan Maharani menyebut, hubungan Mega dan SBY seperti keluarga.

Politisi PDIP Junimart Girsang bangga dengan sikap Mega yang lapang dada terhadap SBY, yang sempat yang menjadi rival pada Pilpres 2004 dan 2009. Menurutnya, Mega menerapkan langsung nilai Pancasila dengan semeja bersama SBY.

"Mengajarkan kita untuk secara aktif, konsisten membumikan nilai-nilai butir Pancasila di Indonesia," ucap Junimart, kemarin.

Berita Terkait : Saling Melengkapi, Wanita Kembar Dempet Berbagi Kisah Asmara

Nilai Pancasila tersebut, kata Junimart, Mega menunjukkan solidaritas, perdamaian, persatuan, dan kesatuan. Wakil Ketua Komisi II DPR menyatakan, Mega merupakan tokoh dan sosok pemimpin perempuan yang mendunia dan menjunjung tinggi solidaritas. "Juga cinta perdamaian untuk Indonesia maju sesuai dengan cita ayahnya Bung Karno," ucapnya. 

Pihak Demokrat juga bersyukur dengan akrabnya Mega dan SBY di gelaran G20 tersebut. Demokrat berharap, kebersamaan Mega dan SBY itu membawa suasana teduh menjelang tahun politik. "Agar tak ada pembelahan yang bisa berdampak pada koyaknya tenun kebangsaan," ucap Deputi Bappilu DPP Demokrat Kamhar Lakumani.

Menurut Kamar, kesediaan Mega dan SBY duduk satu meja menunjukkan kedewasaan para mantan petinggi negara. "Kebersamaan seperti ini sangat penting yang menimbulkan suasana yang teduh dan harmonis di masyarakat," jelasnya. 

Pada jamuan makan malam itu, Mega dan SBY kompak mengenakan pakaian biru. Menurut Kamhar, hal ini tanpa direncanakan. "Kebetulan yang sesuai kehendak semesta," tandas dia. 

Berita Terkait : Wapres Bahas Peningkatan Kerja Sama Dengan Dubes Emirat Arab di Istana

Pengamat politik dari Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie menyatakan, duduknya SBY dan Mega dalam satu meja merupakan momen langka. Sebelumnya, Mega dan SBY sangat sulit dipersatukan. Bahkan, momen Sidang Tahun MPR di Senayan dan Peringatan HUT RI di Istana pun tak mampu mempersatukan mereka. Saat SBY hadir, Mega tidak datang. Saat Mega datang, giliran SBY yang berhalangan. 

Jerry melihat, mulai akrabnya SBY dan Mega ini merupakan angin segar. Sebab, keduanya terlihat sudah melupakan perseteruan yang terjadi sejak 2024. "Kalau sekarang, saya melihat Mega dan SBY sudah move on dari sejarah itu,” ucap Jerry, kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Dia meyakini publik sudah lama menunggu momen seperti ini. "Kemesraan yang ditunjukkan dalam momen itu memang punya nilai politis yang perlu direspons oleh publik," sambung dia. 

Dia berharap kedua mantan presiden itu bisa berdiskusi, tukar pandangan, dan gagasan demi kemajuan bangsa Indonesia. "Setidaknya sebagai mantan kepala negara keduanya memikirkan nasib bangsa ke depan,” imbuhnya.

Berita Terkait : NasDem Vs PDIP Konflik Menajam

Namun, untuk hubungan PDIP dan Demokrat, Jerry masih ragu akan mulai akrab. Sebab, jalan politik kedua partai ini berbeda sangat jauh. Apalagi, menjelang Pilpres 2024, PDIP dan Demokrat akan mengusung dua calon yang berbeda, yang saling menegasikan satu sama kali.■