Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar mengungkapkan, banyak yang meminta dirinya tidak nyapres pada pilpres 2024. Mendengar permintaan itu, Cak Imin-sapaan Muhaimin Iskandar-tak menggubrisnya. Imin tetap maju tak gentar buat nyapres.
Sikap teguh Imin untuk nyapres diungkapkannya pada acara Grand Final Gus Muhaimin Festival Al-Banjari se-Jawa Timur yang digelar di Kantor DPW PKB Jatim, Surabaya pada Sabtu (3/12) lalu.
Di hadapan ratusan peserta, Imin menegaskan dirinya tidak akan menyerah untuk maju sebagai capres 2024. Apalagi mundur dari perebutan kursi RI1.
Mulanya, Wakil Ketua DPR itu mengaku banyak orang yang datang kepadanya untuk memohon agar tidak mencalonkan diri sebagai capres. Namun, dia menolak. Kata Imin, dirinya pantang mundur sebelum mencoba.
"Banyak yang datang kepada saya, mereka bilang Gus Muhaimin mundur aja nggak usah nyapres, akan banyak sekali tantangan dan peluang yang akan sulit," kata Cak Imin, mengkisahkan.
Baca juga : Presiden Tak Mau Menakut-nakuti
Imin punya alasan kuat mengapa tetap harus maju dalam pertarungan Pilpres 2024. Imin mengklaim nyapres merupakan bentuk perintah jihad untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik. Maju capres merupakan perintah Muktamar PKB yang merupakan forum tertinggi partai.
"Banyak yang bisikan ke saya, awas serangan menjadi lebih kencang lagi semakin hari semakin ke depan. Ini (nyapres) perintah muktamar (PKB), sehingga kalau saya mundur maka saya harus melaksanakan muktamar untuk mengubah kewajiban," tegasnya.
Selain itu, mantan Menteri Ketenagakerjaan tersebut menuding banyak pihak yang merasa cemburu dan iri kepada PKB. Pasalnya, partai berlambang bola dunia itu masih terus dibiarkan hidup. Padahal, menurut Imin, partainya ini tidak memiliki infrastruktur yang bagus. Meski demikian, PKB tetap dapat terus berkembang dan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.
"Sebagai kekuatan politik, PKB saya lihat sebetulnya itu gasnya masih setengah. Ibarat gas mobil, kita gasnya baru 50 nih. Kalau digas lagi bisa 100. Ini saja sudah banyak yang cemburu. Ya sudah nggak usah digas kenceng-kenceng," seloroh dia.
Ketua DPP PKB, Daniel Johan mengatakan, ngototnya Imin nyapres merupakan amanat yang dihasilkan dari muktamar. "Amanah muktamar harus dijalankan," jelas Daniel.
Baca juga : Putri Ayudya, Daging Merah Bikin Roh Masuk Tubuh
Saat ditanya siapa yang meminta Imin mundur dari bursa kandidat, Daniel minim informasi. Dia mengaku, tidak tahu siapa sosok yang mendesak agar bosnya itu mundur dari kontestasi Pilpres 2024. "Tidak paham juga siapa," ujar anggota Komisi IV DPR itu.
Menyoal nasib koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR) apabila Imin tetap ngotot nyapres? , Daniel mengatakan, hal tersebut bakal ditentukan oleh ketua partai koalisi. "Itu akan ditentukan oleh kedua ketum koalisi (Imin dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto)," imbuh Daniel.
Untuk diketahui, Gerindra dan PKB membentuk Koalisi Indonesia Raya (KIR). Namun, sampai saat ini kedua partai itu belum mendeklarikan capres dan cawapresnya. Pasalnya, Prabowo dan Imin sama-sama ingin jadi capres.
Apa penilaian pengamat soal Imin yang ngotot nyapres? Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah menilai, positif ikhtiar Imin untuk maju sebagai Capres 2024. Menurut dia, ketum parpol yang nyapres akan mendapati dua keuntungan: Pertama meningkatkan daya tawar pada mitra koalisi. Dan, Kedua membangun soliditas internal yang lebih kuat.
"Hasrat Imin benar. Begitulah seharusnya sikap ketua umum partai politik. Meskipun, hasrat itu belum tentu tercapai," terang Dedi, kemarin.
Baca juga : Yandri Ajak Seluruh Pihak Bantu Korban Gempa Cianjur
Mengingat, sambung Dedi, ada rasionalitas politik yang harus dijaga. Misalnya, mitra koalisi PKB belum tentu merestui Imin menjadi capres. Ditambah lagi elektabilitas Imin masih jauh di bawah kandidat lain.
"PKB sulit mencapreskan Imin karena banyak faktor, koalisi yang ia bangun belum tentu merestui Imin, juga karena elektabilitasnya yang masih rendah," cetus dia.
Pengamat politik jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menduga, Muktamar yang memutuskan pencapresan Cak Imin hanya diperlukan sebagai propaganda. "Tidak benar-benar diwujudkan dalam kontestasi," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya