Dark/Light Mode

Erick Thohir Ungkap Pesan Jokowi

Jangan Lawan Hoaks Dengan Hoaks

Sabtu, 19 Januari 2019 08:00 WIB
Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Erick Thohir. (Grafis: Royani)
Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Erick Thohir. (Grafis: Royani)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengusaha ini sebenarnya tak tertarik dengan politik. Selain bisnis, kecintaan Erick Thohir adalah ngurus sepak bola. Tak banyak orang tahu, bahwa dia adalah tokoh penting dan pelobi ulung yang membuat Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) mencabut sanksi terhadap persepakbolaan Indonesia.

Tahun lalu, orang dibuat berdecak kagum padanya. Sukses Asian Games 2018 adalah buah kerja keras Erick dan tim. Event itu membuat kita bangga jadi bangsa Indonesia. Jumat (18/1) siang, Erick Thohir menyambangi Rakyat Merdeka. Posisinya sekarang sudah berbeda. Erick pegang kursi strategis, dipercaya sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf. Mau tak mau, sekarang Erick terjun ke urusan politik.

Erick tiba di kantor Rakyat Merdeka sekitar pukul 2 siang. Penampilannya santai. Mengenakan batik lengan pendek warna gelap, Bos Mahaka Group ini tak sendiri. Ia ditemani sahabatnya, mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Lutfi. Lutfi juga pernah menjabat Menteri Perdagangan dan Dubes RI di Jepang.

Rombongan Erick disambut Direktur Rakyat Merdeka Kiki Iswara dan Pemimpin Umum Ratna Susilowati. Di ruang pertemuan, Erick menceritakan tugas-tugasnya di Tim Kampanye Nasional. Obrolannya mengalir. Temanya pun macam-macam. Yang santai, yang serius, yang off the record juga ada.

Yang berat-berat misalnya, bagaimana Presiden Klub Inter Milan ini dibuat pusing oleh serangan hoaks dari kubu lawan yang bertubi-tubi. Efeknya, menurut Erick, sungguh luar biasa. Meski pihaknya sudah memberi klarifikasi, masih ada 40 persen yang percaya hoaks karena telanjur menyebar. Karenanya, dia memikirkan banyak strategi menghadapi serangan.

Baca juga : Awas, PSSI Bungkam Desakan KLB dengan Fulus

Tim hukum dan advokasi kini lebih aktif dan diberdayakan. Termasuk memilih juru bicara dan jurkam, Erick juga terlibat aktif. Pertemuan rutin dilaksanakan setiap pekan. Dengan berbagai pihak termasuk tim media sosial. Hasilnya sudah kelihatan. Belakangan, di berbagai isu, Jokowi-Maruf leading. Kepada tim medsos, Erick mewanti-wanti, jangan membuat hoaks dan fitnah. Kontennya harus fakta dan optimisme. Kata kuncinya, jangan melawan hoaks dengan hoaks. Ini merupakan perintah langsung Jokowi.

"Tidak ada arahan menghalalkan segala cara. Kami bergerak sesuai dengan karakter kepemimpinan Pak Jokowi," katanya. Erick juga bercerita tentang visi Jokowi-Maruf: Nawacita jilid 2. Yaitu, fokus pada pembangunan sumber daya manusia. Erick mengatakan, alasan mendukung Jokowi bukan hanya faktor Jokowi semata. Tapi, lebih besar dari itu.

Di tangan pemimpin yang baik, Erick yakin, Indonesia akan jadi kekuatan ekonomi besar dunia. Dan untuk mencapainya, Indonesia membutuhkan stabilitas dan keberlanjutan. Kalau tidak, ia khawatir seperti Yugoslavia. Bukannya maju, malah pecah menjadi beberapa negara.

"Andai Yugoslavia masih ada, saya yakin akan menjadi negara yang diperhitungkan. Punya tim sepakbola yang kuat," ujarnya. Pemain-pemain hebat bisa digabung dalam satu tim. Striker Edin Dzeko yang sekarang memperkuat Bosnia, atau midfielder Luca Modric di Kroasia, atau kiper Handanovic yang membela Slovenia.

Kalau pemain-pemain itu bersatu dalam satu tim, Erick yakin, Yugoslavia bisa jadi kampium dunia. Tapi, karena Yugoslavia pecah menjadi beberapa negara, talenta-talenta pun terpecah.

Baca juga : Jokowi Balas Sindir Hoaks Ratna Sarumpaet

Bagaimana bisa ditunjuk menjadi Ketua Tim Kampanye Nasional? Erick cerita, beberapa kali pernah ke Istana untuk urusan PSSI. Lalu, makin kenal Jokowi setelah perhelatan Asian Games 2018. Bagi Erick, Jokowi adalah sosok imam, bapak dan sahabat rakyat.

"Bayangkan, malam baru selesai debat, paginya sudah blusukan kerja ke Garut, Jawa Barat. Itu luar biasa. Sementara saya, pagi ini bangun masih main medsos," katanya tertawa.

Disebut sahabat rakyat, itu karena Jokowi memahami betul detail dan perasaan masyarakat. Erick bercerita, saat event Hitung Mundur Jelang Asian Games 2018. Kala itu, ada seribuan penonton memadati lapangan Monas.

Sebelum meninggalkan acara, Jokowi berpesan, sediakan air untuk penonton yang kehausan. Kalau perlu, disiram agar tidak kepanasan. Sekitar 10 menit setelah Jokowi pergi, Erick ditelepon Ajudan Presiden. Ia ditanya, apakah arahan Presiden sudah dilaksanakan?

"Tentu saya jawab sudah dilaksanakan. Itu menunjukkan bagaimana Pak Jokowi memastikan bahwa instruksinya betul-betul dilaksanakan," ucapnya. Erick juga menyebut Jokowi sebagai imam karena selalu shalat tepat waktu. Dan bacaannya fasih saat memimpin shalat berjamaah.

Baca juga : Jokowi: Jangan Pesimis

Banyak yang menduga Anda akan masuk kabinet sebagai imbalan posisi ini? Erick langsung tertawa. Katanya, dia bersedia duduk sebagai Ketua Tim TKN pun karena ada syarat yang dia minta, yaitu tidak masuk kabinet. Erick bilang, di TKN tugasnya bukan urusan politik, tapi membantu Jokowi me-manage tim kampanye.

"Kalau politiknya sudah banyaklah yang jagonya," kata dia. Di TKN, hubungannya dengan Jokowi dilandasi rasa saling percaya. "Klausal pertamanya, ya saya bekerja sepanjang Pak Jokowi percaya pada saya. Dan Pak Jokowi bisa mengganti saya kapan saja," ujar Erick.

Kenapa begitu? Karena, lanjut Erick, tugasnya tak hanya mengelola TKN, tapi juga memberikan masukan. "Masukan kalau yang baik-baik kan sudah banyak dari parpol koalisi. Dari saya, yang buruk dan jelek-jelek. Jadi, jika beliau tidak suka, saya bisa diberhentikan kapan pun," ucap Erick.

Ini jadi mirip filosofi jamu. Berpahit-pahit dahulu, sehat segar kemudian. [BCG]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.