Dark/Light Mode

Respons Eksponen Fusi 1974, DPP PPP: Jangan Terjebak Nostalgia Masa Lalu

Senin, 6 Januari 2025 20:54 WIB
Ketua DPP PPP Amri M. Ali. Foto: Istimewa
Ketua DPP PPP Amri M. Ali. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Jelang Muktamar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) April mendatang, sejumlah kader membentuk Eksponen Fusi PPP 1973. Tujuannya, mengingatkan kebangkitan Ka'bah masa lalu serta memunculkan nama-nama calon Ketua Umum potensial.

Menanggapi gerakan ini, Ketua DPP PPP Amri M. Ali mengajak, semua kader PPP segera meninggalkan nostalgia masa lalu dengan turut berbenah secara cepat dan lugas, agar PPP tidak ditinggalkan oleh umat.

"Jangan terjebak masa lalu. Yang kita butuhkan kader partai solid, idealis, responsif, jadi problem solving atas permasalahan bangsa dan umat. Ini pilar utama yang harus diperankan oleh partai," kata Amri dalam keterangannya, Senin (6/1/2025).

Diceritakan, fusi merupakan peristiwa politik dan hukum yang telah dijalani PPP, 5 Januari 1973. Ini perintah Orde Badu lewat Undang-Undang untuk merampingkan jumlah parpol di Indonesia. Konsekuensinya, sejumlah Partai Islam, seperti PNU, Parmusi, PSII dan Pertumbuhan, melebur jadi PPP dengan lambang Ka'bah.

Baca juga : Yasonna Laoly Penuhi Panggilan KPK Terkait Kasus Harun Masiku

Dalam perjalanannya, PPP mulai gembos. Pertama, saat NU memproklamirkan kembali ke Khittah 1926. Raihan suara dan kursi PPP di beberapa provinsi di Indonesia, anjlok.

PPP kembali gembos saat NU memproklamirkan secara tidak langsung berdirinya PKB. Di sisi lain, tokoh-tokoh Parmusi turut mendirikan beberapa parpol baru, sebut saja PBB, Masyumi, dll. Juga Sarekat Islam meski tak mampu berkiprah di pentas politik nasional.

Bagi PPP, lanjut Amri, sebenarnya persoalan fusi sudah tuntas dan tidak lagi menjadi topik utama. PPP kini wajib memberikan prioritas bagi kader yang memiliki loyalitas, idealisme, kemampuan, integritas dan jati diri yang mumpuni untuk menempati posisi strategis.

Apalagi, lanjutnya, sistem Pemilu yang telah bergeser dan sikap pemilih yang telah berubah, fusi tidak lagi menjadi pilihan utama untuk menjadi pertimbangan.

Baca juga : Jangan Ada Lagi Wariskan Dendam Sejarah Masa Lalu

"Dalam prakteknya, fusi sama sekali tidak menjadi alasan rakyat memilih parpol pada saat Pemilu," tegasnya.

Dia berharap, seluruh ikhtiar fungsionaris dan kader memberikan dampak positif dan konstruktif bagi kebangkitan PPP. Diingatkan, konflik, friksi dan pertikaian tidak akan pernah menjadi jalan keluar untuk PPP kembali jaya dan besar.

"Melainkan muhasabah, evaluasi tabayyun dan membangun kekompakan yang solid, itu modal yang berarti serta bermakna bagi perjuangan," pungkas Amri.

Sebelumnya, sejumlah tokoh PPP membentuk gerakan Eksponen Fusi PPP 1973 yang terdiri dari beragam latar organisasi masyarakat, yakni Nahdlatul Ulama (NU), Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi), Serikat Islam (SI), dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

Baca juga : Ronaldo Akui Lionel Messi Pemain Pemain Terbaik Dunia

Tokoh PPP di antaranya Husnan Bey Fananie (anggota DPR 2009-2014 serta Dubes RI untuk Republik Azerbaijan 2016-2020), Idy Muzayyad, serta Zarkasih Noer (mantan anggota DPR dan Menteri Koperasi).

"Latar belakangnya, kami kecewa karena partai berlambang Ka'bah pertama kalinya gagal masuk parlemen di Pemilu 2024. Ketua yang sekarang ini sudah gagal. PPP harus bangkit," kata Idy yang dipecat dari posisi Plt Ketua DPW Bali saat konferensi pers di Jakarta, Minggu (5/1/2025).

Senada, Husnan Fananie menilai, PPP telah kehilangan kepemimpinan dan sudah melenceng dari semangat awalnya yaitu membela umat, bukan malah bekerja sama dengan kekuasaan. "Umat jangan hanya diambil suaranya," seru Ketua Umum Parmusi ini.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.