Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Analisa Lembaga CSIS
Gerindra Kini Geser Banteng & Beringin
Kamis, 20 Februari 2025 07:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Center for Strategic and International Studies (CSIS) menganalisa terjadinya pergeseran dominasi partai politik. Partai Gerindra menggeser PDI Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar.
“Terjadi perubahan yang besar,” ujar Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes di acara diskusi di Auditorium CSIS, Tanah Abang, Jakarta, Rabu (19/2/2025).
Diungkapkan, dominasi Partai Gerindra ini terjadi di level provinsi, hingga kabupaten dan kota. Menilik data CSIS, di hasil pilkada 2019, tercatat hanya ada 6,06 persen gubernur yang dicalonkan Gerindra. Namun, angkanya melonjak menjadi 27,03 persen di Pilkada Serentak 2024.
Sebaliknya, beberapa partai mengalami penurunan signifikan. PDIP misalnya, di Pilkada sebelumnya mencatatkan 21,21 persen kepala daerah, kini merosot tajam menjadi hanya 0,81 persen. Golkar juga mengalami penurunan dalam jumlah kemenangan calon yang diusungnya.
Baca juga : Komdigi Tambah Proteksi Pengguna Gawai Android
Di Pilkada Gubernur, dari 18 calon gubernur dari PDIP, hanya empat calon yang menang di Pilkada 2024. Sementara, dari 16 calon Gubernur dari Partai Gerindra, 11 di antaranya memenangkan kontestasi pesta demokrasi.
Sementara untuk posisi Wakil Gubernur, dari 17 calon yang diusung Partai Golkar, hanya enam yang berhasil memenangkan pemilihan. PDIP, yang mengusung 16 calon wakil gubernur, mencatatkan lima kemenangan.
“Jadi kita melihat memang terjadi pergeseran yang cukup besar terutama bergesernya dominasi partai tertentu pada level provinsi. Kita lihat juga, kita prediksi juga terjadi pada level kabupaten,” katanya.
Menurutnya, perubahan dominasi ini di antaranya dipengaruhi faktor Partai Gerindra sebagai partai penguasa karena Presiden Prabowo Subianto juga Ketua Umum Partai Gerindra. Situasi ini, dianggap menguntungkan pemerintah pusat mengeksekusi program untuk rakyat.
Baca juga : DPW PKB Sulsel Salurkan Rp 107 Juta Ke Caleg Gagal
“Jadi ada pergeseran di daerah, dan ini tentu dari sisi pemerintah akan memudahkan eksekusi program-program strategis di daerah," katanya.
Arya juga menyimpulkan, petahana bukan jaminan memenangi Pilkada 2024. Banyak faktor yang menentukan seseorang dapat memenangkan Pilkada 2024.
Arya mencontohkan, sejumlah daerah di mana gubernur petahana ikut Pilkada 2024, tetapi mengalami kekalahan. Seperti Edy Rahmayadi di Sumatera Utara, Erzaldi Rosman Djohan di Bangka Belitung, hingga Steven Kandouw di Sulawesi Utara.
"Misalnya itu terjadi di Sumatera Utara, incumbent-nya kalah, juga di Bangka Belitung, Sulawesi Utara, yang juga basis PDIP, dan beberapa provinsi besar di Indonesia, jadi status incumbent belum tentu akan mempengaruhi kemenangan seseorang," katanya.
Baca juga : Kemenkes Mau Batasi Iklan Produk Tinggi GGL
Arya juga mencontohkan kekalahan calon yang didukung dinasti politik lokal atau local strong man seperti yang terjadi di Pilkada Banten, saat Cagub Andra Soni mengalahkan Airin Rachmi Diany.
"Pak Andra Soni juga berhasil mengalahkan satu strong man besar, dinasti politik besar di Banten dan berhasil tampil sebagai gubernur terpilih, jadi banyak faktor yang mempengaruhi terpilih tidak terpilihnya seseorang," ucapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya