Dark/Light Mode

Sampaikan Kuliah Umum Di UI

JK: Pemimpin Wajib Berpikir Cepat Dan Tepat

Senin, 26 Mei 2025 07:30 WIB
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Foto: Instagram/jusufkalla)
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Foto: Instagram/jusufkalla)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan, seorang pemimpin harus berpikir cepat dan tepat, saat negara menghadapi badai atau krisis seperti saat ini. Keputusan tepat, akan membawa bangsa dalam posisi menguntungkan secara ekonomi maupun politik.

“Seorang pemimpin harus segera mengambil kebijakan secara cepat dan tidak keliru. Jika keliru, persoalan negara tidak akan selesai," kata pria yang akrab disapa dengan akronim JK ini, saat memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia (UI) Depok, Minggu (25/5/2025).

Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini menganalisa, bangsa Indonesia saat ini dihadapkan pada dinamika dunia yang kom­pleks. Mulai dari ketegangan geopolitik, disrupsi teknologi, krisis iklim, hingga ketidakpas­tian ekonomi pasca pandemi.

Di tengah arus perubahan ini, Indonesia dituntut untuk tidak hanya bertahan. Melainkan, menjadi aktor yang berkontri­busi pada tatanan global yang lebih adil. Apalagi, konflik mi­liter global seperti konflik Israel vs Palestina, Ukraina vs Rusia, hingga India vs Paskitan mem­perparah krisis global.

Baca juga : RI-China Teken MoU Pariwisata

“Penurunan ekonomi Indonesia mengakibatkan daya beli menurun, masyarakat mengu­rangi pengeluaran, menjadikan produksi atau bisnis mengalami penurunan . Kemudian terjadi PHK. Akibatnya, jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan me­ningkat dan semakin banyaknya pengangguran di Indonesia,” jelasnya.

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Ke-12 itu menyarankan, negara seharusnya membangun ekonomi berkelanjutan seperti Pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan inklusif. Kemudian, keamanan yang menjamin lingkungan investasi dan perkembangan, menjaga pertumbuhan dengan sumber daya berkelanjutan, serta dalam upaya memenuhi kebutuhan pokok masyarakat secara optimal.

Menurut JK tantangan ke de­pan yang dihadapi Indonesia yai­tu proteksionisme, kesenjangan semakin lebar. Baik kesenjangan ekonomi maupun kesenjangan sosial dan pendidikan. Kemudian, lemahnya supremasi hu­kum dan penegakan keadilan, serta perkembangan teknologi AI atau yang cepat.

“Kemajuan bangsa dibangun dari kolaborasi antara para in­telektual, Pemerintah, dan ma­syarakat. Tidak ada kemakmu­ran tanpa kerja keras. Tidak ada persatuan tanpa keadilan,” ujar JK.

Baca juga : Pemerintah Harus Tingkatkan Edukasi Kesehatan Reproduksi

Sejurus kemudian, Ketua Umum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) itu memberikan masukan terhadap pemimpin yang berada di tengah badai, seperti harus tetap bersi­kap tenang dan fokus.

“Ibarat kapal yang sedang berada di tengah badai, seorang pemimpin harus tetap tenang dan fokus bagaimana mencari solusi agar kapalnya tidak karam," katanya.

Selain itu, saat krisis seorang pemimpin juga harus bisa berkomunikasi secara efektif dengan rakyatnya. Harus bisa menjaga emosi agar tidak tergesa-gesa dalam pengambilan kebijakan serta membutuhkan pengalaman dalam menghadapi setiap masalah.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat itu juga membagikan pengalaman­nya saat mendamaikan konflik Poso, Ambon, dan Aceh serta berbagai kebijakan yang diam­bilnya saat Indonesia meng­hadapi krisis pada tahun 1998 dan 2008.

Baca juga : 21 PAC Menolak Plt, Gerindra Kuningan Memanas

JK saat menjabat di pemerintahan mengumumkan kebijakan yang tidak populis. Seperti menaikkan bahan bakar minyak (BBM), menaikkan harga minyak tanah dan menghapus subsidi, serta membagikan bantuan lang­sung tunai (BLT) saat itu.

Dia mengklaim, pada masa Pemerintahannya terdapat ke­bijakan kenaikan harga minyak tanah dan harga BBM terbesar, yang tidak diikuti demo besar-besaran. "Karena saat itu diumumkan pada saat menjelang puasa dan orang berpikir untuk aksi demo saat berpuasa. Jadi, itulah perlunya mengeluarkan kebijakan yang tepat dan strategis," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.