Dark/Light Mode

Ketua Umum Golkar Sudah Memaafkan

Idrus Menganggap Meme Bahlil Bentuk Penghinaan

Rabu, 29 Oktober 2025 06:40 WIB
Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham. (Foto: Rizki Syahputra/RM)
Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham. (Foto: Rizki Syahputra/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar, Bahlil Lahadalia sudah memaafkan pelaku pembuat meme dirinya. Namun, Idrus Marham, yang juga Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Golkar menganggap meme tersebut sebagai penghinaan.

Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham geregetan dengan beredarnya meme berupa foto maupun video Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. 

“Saya ingin mengatakan, ini sudah menyangkut masalah moral, keagamaan, etika, dan akal sehat. Bahkan sudah sampai kepada martabat bangsa,” kata Idrus dalam konferensi pers bertajuk “Serangan Rasis kepada Bahlil Lahadalia Menodai Semangat Sumpah Pemuda” di Menteng, Jakarta, Selasa (28/10/2025). 

Idrus mengatakan, video yang beredar, yang dialamatkan kepada Ketua Umum Partai Golkat, Bahlil Lahadalia sudah kebablasan. Dia menilai, meme itu bukan lagi kritik dalam konteks berdemokrasi, melainkan sudah berbentuk penghinaan. 

Baca juga : Produksi Migas Naik Jadi 607 Ribu Barel Per Hari, Menteri Bahlil Happy

“Ada video yang berisi pertanyaan: “Bagaimana jika batubara dijadikan alat untuk melempar jumroh?” Ini kan sudah masalah agama,” katanya. 

Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen Partai Golkar) ini mengaitkan peredaran meme tentang Bahlil, dengan peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober. Dia mengingatkan, semangat Sumpah Pemuda merupakan titik persatuan yang menjelma menjadi batin bangsa, kekuatan spiritual, moral, dan intelektual yang menyatukan. 

Meme itu sama sekali tanpa empati dan tanpa rasa hormat sedikit pun terhadap martabat kemanusiaan seorang Bahlil,” ujarnya. 

Idrus mengatakan, kesejatian bangsa ini tidak tumbuh dari kebencian atau sikap yang merendahkan martabat kemanusiaan sesama anak bangsa. Karena itu, kata dia, fenomena meme Bahlil menjadi hal yang bertolak belakang dengan semangat Sumpah Pemuda. 

Baca juga : BUMN Transportasi Tebar Diskon Dan Kerek Layanan

Mantan anggota DPR ini menjelaskan, Sumpah Pemuda lahir dari semangat intelektual, perdebatan gagasan, dan semangat kebersamaan, bukan dari saling menjatuhkan. Bahkan, kata dia, perjuangan para tokoh muda dahulu, seperti Bung Karno atau Bung Tomo, justru berdebat dengan ide, bukan dengan hinaan. 

“Meme bernada rasis terhadap Bahlil mencerminkan kemunduran moral dalam kehidupan kebangsaan,” ujarnya. 

Sumpah Pemuda, kata Idrus, visi tentang Indonesia masa depan yang bersatu, berdaulat, dan bermartabat. Begitupun demokrasi, kata dia, seharusnya menjadi ruang adu gagasan dan kualitas, bukan arena untuk menjatuhkan seseorang berdasarkan asal-usul atau identitas primordial. 

“Demokrasi harus dibangun di atas ide dan kualitas, bukan pendekatan rasial. Jangan bersembunyi di balik rasisme untuk mendiskreditkan orang lain,” tegasnya. 

Baca juga : Sanksi Materi Dan Sosial Bisa Bikin Pelaku Jera

Idrus mengajak masyarakat menjadikan momentum Sumpah Pemuda sebagai sarana memperkuat rasa kebangsaan dan solidaritas sosial. Indonesia, kata dia, adalah rumah bersama yang harus dijaga tanpa memandang perbedaan suku, agama, atau latar belakang sosial. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.