Dark/Light Mode

30 Tahun Kudatuli: Merawat Ingatan, Menjaga Demokrasi Tetap Bernyawa

Senin, 27 Juli 2026 11:14 WIB
Foto: PDIP.
Foto: PDIP.

RM.id  Rakyat Merdeka - "Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?" — Pramoedya Ananta Toer.

Tanggal 27 Juli 1996 menjadi salah satu momentum yang sulit dipisahkan dari sejarah demokrasi Indonesia.

Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) tidak sekadar dipandang sebagai konflik internal partai politik, melainkan juga menjadi bagian dari dinamika politik nasional yang memperlihatkan kuatnya tarik-menarik antara kekuasaan dan aspirasi demokrasi.

Banyak kalangan menilai bahwa peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting yang memperkuat gerakan masyarakat sipil menuju Reformasi 1998.

Di sisi lain, Kudatuli juga menjadi pengingat bahwa demokrasi merupakan proses yang lahir melalui perjuangan panjang dan tidak terlepas dari berbagai pengorbanan.

Latar Belakang Politik

Untuk memahami Kudatuli secara utuh, peristiwa ini perlu ditempatkan dalam konteks politik Orde Baru. Setelah penyederhanaan partai politik pada 1973, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menjadi salah satu dari tiga peserta pemilu yang beroperasi dalam sistem politik yang sangat terkontrol.

Situasi berubah ketika Megawati Soekarnoputri terpilih sebagai Ketua Umum PDI pada 1993. Kepemimpinannya memperoleh dukungan luas dari berbagai kelompok masyarakat dan memunculkan dinamika politik baru yang berbeda dari sebelumnya.

Baca juga : Ramai Terapi Rokok untuk Pengobatan, Begini Kata Dokter Spesialis Paru

Perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan partai kemudian memuncak pada Kongres Medan tahun 1996 yang menetapkan kepengurusan baru di bawah Soerjadi.

Sementara itu, kubu Megawati menolak hasil kongres tersebut dan tetap mempertahankan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta.

Peristiwa 27 Juli 1996 Pada pagi 27 Juli 1996, terjadi penyerbuan terhadap kantor DPP PDI yang dikuasai pendukung Megawati. Bentrokan yang terjadi kemudian meluas hingga memicu kerusuhan di sejumlah wilayah Jakarta.

Peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa, korban luka, serta orang-orang yang dinyatakan hilang.

Hingga kini, Kudatuli masih menjadi bagian dari catatan sejarah yang terus dikaji oleh berbagai kalangan sebagai salah satu peristiwa penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Megawati dalam Perspektif Sejarah

Dalam berbagai kajian politik, Megawati Soekarnoputri dipandang sebagai salah satu figur sentral dalam dinamika tersebut.

Di tengah tekanan politik yang dihadapi saat itu, ia memilih menempuh jalur konstitusional melalui mekanisme hukum dibandingkan mendorong perlawanan yang bersifat konfrontatif.

Pilihan tersebut dinilai menjadi bagian dari strategi politik yang berupaya menjaga perjuangan tetap berada dalam koridor konstitusi, sekaligus memperlihatkan bahwa penyelesaian konflik politik dapat ditempuh melalui mekanisme hukum, meskipun pada saat itu ruang demokrasi masih sangat terbatas.

Baca juga : Keterbatasan Fiskal, Yuke Yakin Pembangunan Jakarta Tetap Berjalan Pada 2027

Perjalanan politik tersebut kemudian berlanjut dengan lahirnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), yang menjadi salah satu kekuatan politik utama setelah Reformasi.

Kudatuli dan Jalan Menuju Reformasi Banyak pengamat berpendapat bahwa Kudatuli memberikan dampak psikologis dan politik yang cukup besar terhadap perkembangan gerakan pro-demokrasi di Indonesia.

Peristiwa tersebut memperkuat solidaritas berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, aktivis, organisasi masyarakat sipil, hingga kelompok buruh.

Bersamaan dengan krisis ekonomi Asia yang terjadi pada 1997, dinamika tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang mengantarkan Indonesia memasuki era Reformasi pada 1998.

Dalam perspektif tersebut, Kudatuli dipandang sebagai salah satu mata rantai penting dalam proses perubahan politik nasional.

Refleksi bagi Demokrasi

Saat Ini Tiga puluh tahun setelah Kudatuli, peristiwa tersebut tetap relevan sebagai bahan refleksi bagi kehidupan demokrasi Indonesia.

Pertama, independensi partai politik perlu terus dijaga agar proses demokrasi berlangsung tanpa intervensi yang bertentangan dengan prinsip negara hukum.

Kedua, profesionalisme dan netralitas aparat negara menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Baca juga : Salah Naik Pesawat, Ingin Ke Houston Landing Di Tokyo

Ketiga, demokrasi memerlukan ruang dialog, kritik, serta mekanisme checks and balances agar proses pengambilan kebijakan tetap berjalan secara sehat.

Keempat, penguatan meritokrasi dan kaderisasi politik menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola pemerintahan yang demokratis, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Menjaga Semangat Demokrasi

Peringatan Kudatuli tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Peristiwa tersebut dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa demokrasi memerlukan komitmen bersama untuk terus dirawat melalui penghormatan terhadap konstitusi, kebebasan berpendapat, serta penegakan hukum yang adil.

Sebagaimana pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dalam pidato Jas Merah, sejarah menjadi cermin untuk menata masa depan.

Oleh karena itu, pelajaran dari Kudatuli diharapkan dapat memperkuat komitmen seluruh elemen bangsa dalam menjaga demokrasi Indonesia agar tetap berkembang secara matang, inklusif, dan berkeadilan bagi seluruh warga negara.

Oleh: Dr. I Wayan Sudirta, SH, MH.

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dan Ketua Umum IKA Doktor Hukum UKI.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.