Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Inggris Vs Spanyol, Kenangan Final Euro 2024
- Jelang GP Azerbaijan, McLaren Rombak MCL40
- Tindak Lanjuti Temuan Ombudsman, Kemenimipas Investigasi Lapas Cibinong
- ASDP Hadir Dalam Duka Sampaikan Tali Kasih Bagi Keluarga Korban KM Arupadhatu I
- Safrizal Dorong Penguatan NTPD 112: Bukan Sekadar Nomor, Tapi Kecepatan Respons
Antisipasi Capres-Cawapres Dadakan
NasDem-PKB Setuju Pileg Dan Pilpres 2029 Dipisah
Sabtu, 26 September 2026 06:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wacana pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) digelar secara terpisah pada Pemilu 2029 direspons Partai NasDem dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai NasDem Hermawi Taslim menilai, wacana pemisahan pilpres dan pileg pada 2029 merupakan ide menarik untuk dibahas lebih lanjut. NasDem, kata dia, siap berdiskusi untuk membicarakan usulan tersebut.
“Pelaksanaan pemilu serentak sebelumnya memang terasa sangat memecah konsentrasi dan sangat menguras energi, sangat melelahkan untuk para pengurus partai di semua tingkat,” kata Hermawi, Jumat (25/9/2026).
Selain itu, Hermawi menilai, pelaksanaan pemilu secara serentak turut memengaruhi pemberitaan media massa. Menurutnya, pemberitaan menjadi kurang mendalam karena media harus meliput berbagai kontestasi politik dalam waktu yang bersamaan.
Baca juga : Pemerintah Jatim Diminta Antisipasi Gagal Panen
Ketua Fraksi PKB DPR Jazilul Fawaid setuju dengan usulan agar pileg digelar lebih dulu, kemudian dilanjutkan pilpres. Dia mengatakan, pola pemisahan pileg dan pilpres pernah diterapkan pada Pemilu 2009 dan 2014.
“Kami setuju, meskipun nanti kita akan sepakati secara bersama-sama. Pola ini sudah pernah dipraktikkan pada Pemilu tahun 2009 dan 2014,” kata Jazilul kepada wartawan, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, pemisahan tahapan tersebut dapat memberikan ruang bagi partai politik untuk menjadikan hasil pileg sebagai modal dalam menentukan arah koalisi dan pencalonan pada pilpres.
“Kami pikir pola pemisahan itu lebih cocok karena hasil suara Pileg akan menjadi ‘modal’ dalam Pilpres,” lanjutnya.
Baca juga : Perekonomian Terjaga, Investasi Kian Moncer
Jazilul menambahkan, partai politik dapat melakukan kalkulasi awal secara lebih realistis dalam mengusung kader berdasarkan mandat yang diperoleh melalui Pileg. Menurutnya, pelaksanaan pileg terlebih dahulu juga dapat meminimalkan kemunculan calon presiden maupun calon wakil presiden secara mendadak.
“Seingat saya, pola ini dulu memungkinkan partai politik melakukan penjaringan internal untuk menjaring calon presiden atau cawapres dari partainya. Ini juga bagian dari uji publik seorang calon supaya tidak muncul calon ‘dadakan’,” katanya.
Usulan tersebut sebelumnya disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaligus anggota Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia. Doli mengusulkan agar tiga jenis pemilu, yakni pileg, pilpres, dan pilkada, diselenggarakan secara terpisah.
“Kami memang sejak awal mengusulkan agar ketiga jenis pemilu yang kita miliki; pileg, pilpres, dan pilkada sebaiknya diselenggarakan terpisah, tidak ada yang disatukan,” kata Doli, Selasa (22/9/2026).
Baca juga : Stok Pupuk PKT Aman Jelang Musim Tanam
Doli menyebut terdapat sejumlah alasan di balik usulan tersebut. Salah satunya agar konsentrasi masyarakat tidak terpecah saat memberikan suara. Pelaksanaan pemilu serentak membuat masyarakat harus menghadapi banyak pilihan, kotak suara, serta materi kampanye dalam waktu bersamaan.
“Kita ingin agar setiap jenis pemilu bisa diikuti oleh masyarakat secara fokus terhadap masing-masing jenis pemilihan,” katanya. [BSH]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya