Dark/Light Mode

Tak Marahi Kader Yang Bergaya Oposisi

Megawati Membiarkan Banteng Nanduk Banteng

Rabu, 24 Juni 2020 05:48 WIB
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. (Foto: Antara)
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. (Foto: Antara)

 Sebelumnya 
Pakar komunikasi politik Lely Arrianie menilai, sikap kritis PDIP sejauh ini belum mengarah ke gaya oposisi. Sebab, tidak semua dikritisi PDIP. Hanya halhal tertentu saja. “Kalau bergaya oposisi itu, semua kebijakan pemerintah salah. Tapi, kalau mengkritik sesuatu yang urgent, itu tidak masalah. Partai pendukung itu tidak melulu harus manut,” kata Lely, lewat sambungan telepon.

Apalagi, ingat Lely, PDIP pernah berjanji akan tetap kritis meskipun berada di dalam koalisi pemerintah. Sikap kritis ini tidak cuma dilakukan PDIP di periode terakhir Jokowi. Di periode awal, PDIP juga begitu keras ke Menteri BUMN, yang saat itu dijabat Rini Soemarno.

Baca juga : Mandiri Syariah dan Pegawai Salurkan Bantuan Covid-19 Tahap Ketiga

Pengamat hukum Tata Negara Prof Juanda menilai, tidak ada yang salah dari kritik yang disampaikan Adian dan Masinton. Menurutnya, fungsi pengawasan memang harus dijalankan anggota DPR. Asalkan punya dasar dan argumentasi yang jelas. Pengawasan itu dijamin konstitusi dan perundang undangan.

“Saya kira tentu saja ada kalkulasi politiknya. Tak hanya PDIP, juga partai lain. Anggota DPR kan dituntut melakukan koreksi atau menyuarakan aspirasi rakyat. Agar pemerintah selalu berjalan di atas rel,” terang Prof Juanda kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Baca juga : Pakar: Penyiaran Berbasis Internet Harus Tunduk Aturan

Sementara pengamat politik Hendri Satrio melihat ada ‘udang’ di balik sikap kritis PDIP belakangan ini. Partai banteng, sebutnya, sedang bersiap mengganti champions dari Jokowi ke yang lainnya. Targetnya adalah Pemilu 2024. PDIP tidak ingin ditinggalkan konstituennya.

Karena itu, setiap ada kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, PDIP langsung bersuara. “Tujuannya itu aja, supaya tetap menang. Kasihan Pak Jokowi nya, perlahan-lahan mulai ditinggalkan,” ucapnya. [SAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.