Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Jokowi kerap diserang kubu lawan dengan tudingan harga sembako di pasar mahal. Dia pun menyerang balik. Tapi dengan halus. Jokowi bilang, "Nggak pernah ke pasar. Datang ke pasar, nggak beli apa-apa. Pas keluar bilang mahal, mahal, mahal. Haduuh". Jokowi melemparkan serangan balik soal harga sembako, usai blusukan ke Pasar Gintung dan Pasar Smep Tanjung Karang, Lampung, Sabtu (24/11).
Eks Walikota Solo ini mengenakan kaos lengan panjang warna coklat bertuliskan #01, dipadu celana jeans biru dan sepatu kets hitam putih. Dia didampingi istri, Iriana Jokowi. Di pasar, Jokowi membeli tempe. Tidak tanggung-tanggung, Jokowi membeli 50 buah tempe. Selain tempe, Jokowi dan Iriana membeli 2 kilogram cabe hijau, 2 kilogram tomat serta 4 ikat kangkung.
Dia juga sempat berdialog dengan para pedagang. Setelah itu, Jokowi mengikuti Rapat Kerja Tim Kampanye Daerah (TKD) Koalisi Indonesia Kerja (KIK) Provinsi Lampung di Graha Wangsa Golden Dragon, Bandar Lampung. Di sinilah dia menegaskan, harga komoditas pangan di Tanah Air dalam keadaan stabil, kendati ada beberapa yang mengalami kenaikan tapi tidak signifikan.
Baca juga : Bangun Pagi, Jokowi Sarapan Harga Sembako
Contohnya, tempe yang dia beli di Pasar Gintung, harganya hanya Rp 3.500. "Itu dimakan 3 hari saja nggak habis, karena kalau dipotong-potong bisa jadi 15. Hanya Rp 3.500, kalau di Bogor Rp 4.000," beber Jokowi. "Harga sayur, seperti bayam dan kangkung relatif murah, Rp 1.500 per ikatnya. Harga itu lebih murah Rp 500 ketimbang di Pasar Bogor. Coba kalau Rp 100 ribu dibelikan sayur semuanya, nggak akan habis. Murah sekali. Jangan dibalik-balik," katanya.
Dia meminta jangan ada pihak yang menggoreng isu harga komoditas pangan. Soalnya, isu seperti itu menakuti masyarakat. Terutama, pedagang dan ibu-ibu yang sering ke pasar. Jika ibu-ibu terus ditakuti dengan melonjaknya harga komoditas maka tidak mau lagi berkunjung ke pasar. Melainkan, ke supermarket. "Harusnya kita ngomong pasar tradisional itu murah, murah, murah untuk promosi pedagang kecil. Bukannya ngomong mahal, mahal, mahal," seloroh Jokowi.
Dia menyindir kubu lawan yang kerap memainkan isu itu. "Orang nggak pernah ke pasar. Nongol-nongol ke pasar, keluarnya ngomong mahal," sindirnya. "Nggak pernah ke pasar. Nggak mungkin orang super kaya tahu-tahu datang ke pasar, nggak mungkin lah. Datang ke pasar, nggak beli apa-apa. Pas keluar, bilang mahal, mahal, mahal. Haduuh," keluh mantan Gubernur DKI Jakarta ini.
Baca juga : Gandengan Ke Meja Makan, Jokowi-Iriana Begitu Mesra
Terpisah, Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Faldo Maldini menyebut, pantas saja jika pedagang di pasar menyebut harga sembako murah. Sebab, Presiden yang langsung bertanya kepada mereka. "Kalau Presiden ke pasar, ya nggak ada yang berani ngomong harga mahal. Jangankan sekantong kresek, sekarung dikasih tuh cabe Rp 23 ribu," ujarnya, kemarin.
Faldo menyarankan Jokowi menyamar ketika datang ke pasar. Jika perlu, pakai wig dan kumis palsu. "Jangan bawa pengawal, nggak usah bawa motor konvoinya juga," selorohnya. Menurut Faldo, seharusnya Jokowi menjadikan isu mahalnya harga pangan sebagai bahan intropeksi. Bukan malah menyindir atau menyerang balik Prabowo-Sandi. Nyatanya, harga bahan-bahan pokok memang mahal. "Ini malah dijelek-jelekin, orang yang bawa fakta selain yang petahana dapatkan," kritik politisi PAN ini.
Sehari sebelumnya, di Bumi Ayu Malang, Jawa Timur, Sandi menerima keluhan dari seorang warga setempat bernama Sumiati soal naiknya harga sembako. "Bu Sumiati, ini ngomong bener kan? Bukan karena saya ada di sini, bukan karena disuruh? Bukan pencitraan kan? Soalnya kata pemerintah harga - harga stabil," tanya Sandi yang dijawab tidak oleh Sumiati. Sandi menyatakan, di Pasar Besar Malang, memang ada kenaikan buncis dan wortel seperti disampaikan para pedagang. Salah satunya, bernama Laili. Naiknya berkisar 20-30 persen. Sandi tidak mau menganggap wajar kenaikan harga dua komoditas sayuran itu.
Baca juga : Prabowo-Sandi Banyak Minta Maaf, Berarti Banyak Salah
Menurutnya, kenaikan harga 20 persen hingga 30 persen sudah masuk kategori di luar kewajaran. "Kalau tadi naiknya 20 sampai 30 persen dianggap wajar. Yang dianggap wajar itu, tentunya pendapat Pak Presiden, dan tentunya kita hormati," ujarnya. "Tapi menurut Bu Laili tadi, kenaikannya terlalu besar 20 sampai 30 persen. Itu gejolaknya terlalu besar. Itu memberatkan pedagang," imbuhnya. [OKT]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya